Pendahuluan
Daging ayam merupakan salah satu sumber protein hewani terpenting bagi masyarakat Indonesia. Konsumsi daging ayam per kapita cenderung meningkat dalam dekade terakhir, didorong oleh harganya yang relatif terjangkau dibanding daging sapi serta ketersediaannya yang melimpah[1]. Rata-rata konsumsi daging ayam nasional sempat mencapai ~7,5 kg per kapita per tahun (konsumsi rumah tangga langsung) pada 2023[2]. Angka ini menurun sedikit (~2,8%) pada 2024 menjadi sekitar 7,25 kg/kapita – penurunan pertama sejak pandemi 2020[3]. Meskipun demikian, konsumsi ayam masih jauh melampaui konsumsi daging sapi (hanya ~0,45 kg/kapita pada 2024)[4]. Hal ini menegaskan peran dominan ayam sebagai protein pilihan. Selain itu, jika memperhitungkan konsumsi di luar rumah, total konsumsi ayam per kapita di Indonesia diperkirakan mendekati rata-rata global (~15 kg per kapita per tahun).
Dari sisi produksi, industri perunggasan Indonesia terus tumbuh untuk memenuhi permintaan. Produksi daging ayam ras diproyeksi naik ~11% pada 2025 menjadi 4,25 juta ton[5]. Indonesia bahkan termasuk salah satu konsumen ayam terbesar dunia secara total (peringkat 7 secara volume pada 2022)[6]. Tren ini menunjukkan potensi pasar ayam yang besar di tanah air, seiring preferensi konsumen yang terus berkembang.
Laporan ini membahas perilaku konsumen Indonesia dalam mengonsumsi ayam berdasarkan survei terbaru (April 2025, 1.259 responden online) serta didukung riset eksternal 2020–2025. Kami menganalisis frekuensi konsumsi, preferensi jenis produk ayam, alasan dan momen konsumsi, kanal pembelian, faktor penentu pembelian, hingga respons terhadap fluktuasi harga. Selain itu, tren pasar (lokal dan global), pergeseran preferensi ayam segar vs olahan, peran ayam dibanding protein lain, perkembangan distribusi (ritel modern, tradisional, e-commerce), isu harga dan biosekuriti, serta peluang inovasi produk ayam akan dibahas. Hasil analisis ini diharapkan memberi wawasan mendalam bagi pelaku industri pangan, brand, maupun investor dalam merumuskan strategi.
Frekuensi dan Pola Konsumsi Ayam
Survei menunjukkan bahwa konsumsi ayam sudah menjadi kebiasaan rutin mayoritas konsumen Indonesia. Sekitar 2/3 responden mengaku makan ayam setidaknya 3–4 kali dalam seminggu, bahkan 11% mengatakan mengonsumsi ayam setiap hari. Hanya sekitar 4% yang jarang atau hampir tidak pernah makan ayam. Hal ini berarti hampir semua orang menyantap ayam minimal sekali seminggu. Pola ini konsisten di berbagai demografi, menjadikan ayam sebagai lauk pokok di menu harian banyak keluarga.
Tingginya frekuensi ini sejalan dengan posisi ayam sebagai protein hewani paling diandalkan. Untuk konteks, konsumsi ayam jauh melampaui daging merah – konsumsi daging sapi hanya ~0,45 kg/kapita/tahun, turun 10% pada 2024[4], menjadikannya level terendah dalam lima tahun. Sementara itu, konsumsi telur ayam juga tinggi sebagai alternatif protein hewani terjangkau. Data survei mencatat pola konsumsi telur yang tak kalah sering: banyak responden makan telur hampir setiap hari. Kombinasi ayam dan telur memenuhi kebutuhan protein hewani harian masyarakat dengan biaya relatif rendah, sesuatu yang sulit ditandingi daging sapi atau ikan tertentu dari segi harga.
Dibanding sumber protein lain, ayam unggul karena keterjangkauan dan fleksibilitasnya. Harga daging ayam broiler per kg berkisar Rp30–40 ribu, jauh di bawah daging sapi ~Rp130 ribu/kg. Bahkan di tengah tekanan ekonomi pandemi COVID-19, konsumsi ayam tetap meningkat karena konsumen beralih dari protein mahal ke ayam. Kementerian Pertanian mencatat konsumsi ayam per kapita tumbuh rata-rata ~7,4% per tahun dalam 10 tahun terakhir[7]. Pendorong utamanya adalah harga ayam yang murah dan pasokannya melimpah, sehingga mudah diperoleh di mana saja[1]. Ayam telah menjadi menu “wajib” di berbagai kesempatan: dari lauk pauk sehari-hari (digoreng, sop, semur, dll), hidangan utama saat makan keluarga, hingga sajian spesial di perayaan (opor ayam ketika Lebaran, ayam bakar saat pesta, dsb).
Dapat disimpulkan, konsumsi ayam di Indonesia sangat tinggi frekuensinya dan telah menjadi bagian dari pola makan rutin lintas kelompok masyarakat. Kecenderungan ini diperkirakan akan terus berlanjut, apalagi dengan upaya pemerintah menjaga harga tetap stabil dan pasokan aman melalui peningkatan produksi nasional.
Preferensi Jenis Produk Ayam: Segar vs Olahan
Meskipun ayam segar potong mendominasi, preferensi konsumen terhadap bentuk/jenis produk ayam cukup beragam. Survei menanyakan jenis ayam yang paling disukai (responden boleh memilih lebih dari satu). Ayam potong segar dalam bentuk bagian (dada, paha, sayap, dll) adalah favorit utama, dipilih oleh sekitar separuh lebih responden. Konsumen menyukai potongan ayam segar karena kemudahannya diolah dan dapat dibeli sesuai kebutuhan (misalnya hanya dada atau paha saja) – ini lazim untuk memasak sehari-hari di rumah.
Menariknya, ayam goreng siap saji (fast food) menempati urutan kedua terbanyak dipilih. Hampir separuh responden menyukai ayam goreng dari restoran cepat saji atau gerai waralaba. Hal ini mencerminkan pengaruh masif industri fast food di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Perkembangan restoran waralaba seperti KFC, McDonald’s, CFC, dan sebagainya di kota-kota besar telah mendorong konsumsi olahan ayam secara signifikan[8][9]. PT Fast Food Indonesia (KFC) misalnya, mengoperasikan >400 gerai di berbagai kota[10]. Ayam goreng tepung menjadi hidangan populer lintas usia, dari anak-anak hingga dewasa, berkat rasanya yang gurih dan kemudahan penyajian.
Ayam utuh segar (seekor ayam utuh, biasanya ayam kampung atau broiler utuh) juga masih diminati – sekitar 1/3 responden memilihnya. Ayam utuh umumnya dibeli untuk masakan tertentu (seperti ayam panggang utuh, opor saat Lebaran, kaldu, dsb) atau oleh konsumen yang merasa membeli utuh lebih ekonomis. Selain itu, ayam organik atau ayam kampung mendapat porsi peminat sekitar 1/4 responden. Kelompok ini menghargai ayam yang dianggap lebih sehat, bebas bahan kimia, dan cita rasanya “lebih enak/lebih gurih” meski harganya lebih mahal.
Di sisi lain, produk ayam berkemasan siap masak (ready-to-cook) dan ayam beku masih relatif terbatas penggunanya. Hanya ~16% responden menyukai ayam berkemasan siap masak (misal ayam fillet berbumbu, marinasi instan) dan ~10% memilih ayam beku. Hal ini menunjukkan pasar produk ayam olahan modern masih berkembang, belum menjadi arus utama. Konsumen Indonesia umumnya lebih suka ayam segar yang dibeli hari itu untuk dimasak, ketimbang ayam beku. Namun, segmen ini diperkirakan tumbuh seiring perubahan gaya hidup.
Patut dicatat, hanya sekitar 4–5% responden yang menyatakan “saya tidak makan ayam”. Angka ini sangat kecil, mengonfirmasi bahwa pantang mengonsumsi daging ayam (misalnya karena vegetarian) merupakan kasus minoritas.
Perubahan preferensi: Secara umum, konsumen Indonesia masih menempatkan ayam segar (baik bagian potong maupun utuh) sebagai pilihan utama. Namun, tren ke arah kepraktisan mulai tampak. Generasi muda dan keluarga sibuk semakin tertarik pada ayam olahan dan siap saji. Munculnya produk seperti nugget, sosis ayam, karage, dan bahan siap masak (misal ayam berbumbu instan) meningkatkan daya tarik ayam di kalangan konsumen muda dan ibu bekerja[8][11]. Para ibu yang bekerja memiliki waktu terbatas untuk memasak, sehingga membutuhkan bahan pangan yang dapat disiapkan cepat tanpa proses rumit[11]. Produk olahan ayam memenuhi kebutuhan ini. Selain itu, produk olahan cenderung digemari anak-anak (misalnya nugget dan sosis), sehingga membantu meningkatkan konsumsi protein hewani pada generasi penerus[12].
Tren global juga memengaruhi preferensi ini. Di negara maju, ayam olahan dan siap saji telah lama dominan. Indonesia mulai mengarah ke sana, meski ayam segar tetap kuat posisinya. Pola belanja modern (supermarket) mendorong penjualan ayam dalam kemasan, sedangkan pasar tradisional menjual ayam segar utuh atau potong tanpa kemasan. Inovasi packaging di ritel modern memberikan keunggulan berupa kebersihan dan daya simpan[13], yang makin dihargai konsumen perkotaan. Ke depan, kita dapat mengantisipasi pertumbuhan segmen ready-to-cook (siap masak) dan ready-to-eat (siap saji) berbasis ayam, seperti marinated chicken, microwaveable meals, ayam geprek frozen, dll. Industri besar perunggasan (CP, Japfa, dll) mulai merambah pasar FMCG berbasis ayam untuk memenuhi kebutuhan ini.
Lokasi Pembelian: Tradisional, Modern, dan Online
Distribusi penjualan ayam di Indonesia masih didominasi kanal tradisional, tetapi konsumen sekarang memanfaatkan beragam tempat membeli. Hasil survei menunjukkan pola belanja multi-kanal yang menarik:
- Pasar tradisional (pasar basah) merupakan tempat mayoritas konsumen membeli ayam. Sekitar 92% responden menyatakan biasanya membeli ayam di pasar tradisional. Angka ini sangat tinggi, menandakan bahwa meski gaya belanja modern berkembang, pasar rakyat tetap menjadi tumpuan mendapatkan ayam segar bagi hampir semua kalangan.
- Supermarket/hypermarket juga sangat penting – digunakan oleh sekitar 82% responden. Ritel modern menyediakan ayam (umumnya dalam bentuk potongan atau karkas utuh) yang sudah didinginkan atau dibekukan, seringkali dengan kemasan. Kelebihannya adalah kenyamanan (tempat bersih, ber-AC) dan citra lebih higienis. Banyak konsumen perkotaan membeli ayam saat belanja mingguan di supermarket.
- Penjual lokal/tetangga (misalnya pedagang keliling, warung sayur, atau toko daging ayam di dekat rumah) digunakan ~82% responden. Ini mencerminkan jaringan distribusi informal yang kuat – seperti ibu rumah tangga yang langganan tukang sayur keliling yang juga menjual ayam potong, atau penjual di kampung. Penjual lokal memberikan kemudahan (bisa berjalan kaki atau delivery jarak dekat) dan kepercayaan personal karena sudah kenal.
- Platform online (e-commerce/aplikasi belanja) untuk membeli ayam sudah diadopsi oleh ~39% responden. Hampir 4 dari 10 konsumen online pernah membeli ayam melalui aplikasi (seperti marketplace, layanan grocery delivery, atau aplikasi supermarket). Porsi ini cukup signifikan, menandakan pergeseran perilaku ke belanja bahan makanan online, dipercepat pandemi COVID-19. Saat mobilitas dibatasi, banyak yang mencoba order daging ayam via aplikasi. Layanan seperti HappyFresh, Sayurbox, Tukangsayur.co, hingga marketplace besar menyediakan produk ayam segar/frozen dengan pengiriman cepat. Meskipun pangsa online masih lebih kecil dibanding offline, tren e-grocery ini terus tumbuh dan diprediksi menjadi bagian permanen dari kanal distribusi ayam.
- Hanya sekitar 2% yang tidak tahu/tidak jawab, mengindikasikan hampir semua responden dapat menyebutkan kanal beli ayam (kebanyakan menggunakan kombinasi beberapa kanal).
Yang menarik, data di atas menunjukkan kebanyakan konsumen menggunakan lebih dari satu kanal. Misalnya, orang yang belanja mingguan di supermarket mungkin tetap pergi ke pasar tradisional untuk belanja tertentu, atau kadang membeli lewat tukang sayur keliling untuk keperluan harian. Multi-channel behavior ini wajar di Indonesia: konsumen fleksibel mencari sumber yang paling nyaman atau murah tergantung situasi. Pasar tradisional tetap tak tergantikan untuk mendapatkan ayam segar dengan harga relatif murah, sementara ritel modern menawarkan kenyamanan dan kualitas terjamin, dan online menawarkan kemudahan praktis. Bagi produsen dan distributor, hal ini berarti semua kanal tersebut perlu diperhatikan. Strategi distribusi omnichannel menjadi krusial – misalnya memastikan produk tersedia dan terjaga mutunya di pasar, toko modern, dan platform online.
Dari sisi proporsi penjualan nasional, kanal tradisional (pasar dan pengecer kecil) diperkirakan masih menyumbang porsi terbesar (>60%) untuk penjualan daging ayam segar. Namun, modern market terus meningkat kontribusinya seiring urbanisasi dan perubahan gaya belanja. Pemerintah juga mendorong penataan rantai dingin (cold chain) agar lebih banyak ayam dijual secara dingin/beku di ritel modern demi standar keamanan pangan. Meski demikian, preferensi akan ayam “fresh from market” masih kuat, sehingga pasar basah kemungkinan tetap dominan beberapa tahun ke depan.
Adapun penjualan via e-commerce, meski baru beberapa persen dari total, memiliki pertumbuhan tertinggi. Beberapa start-up dan layanan khusus daging (seperti DagingOnline.id[14]) hadir menawarkan ayam segar halal dengan pemesanan online. Pandemi membuktikan kanal ini mampu menjembatani peternak dan konsumen saat jalur tradisional terganggu[15]. Ke depan, integrasi online-offline (misal order online, pickup di toko) mungkin jadi standar.
Insight: Bagi pelaku industri, penting untuk memastikan kehadiran produk di semua kanal, menjaga kualitas di pasar tradisional (misal kebersihan lapak), menjaga rantai pasok dingin untuk ritel modern, serta merambah pemasaran online (kemitraan dengan platform atau pengembangan toko resmi). Pengalaman konsisten di berbagai touchpoint akan meningkatkan kepuasan konsumen.
Momen Konsumsi dan Alasan Mengonsumsi Ayam
Ayam dikonsumsi dalam berbagai momen dan konteks oleh konsumen Indonesia. Beberapa insight terkait timing dan motivations konsumsi ayam:
Momen utama konsumsi: Berdasarkan kebiasaan, makan siang dan makan malam merupakan waktu paling sering menghidangkan ayam. Banyak menu lauk pauk siang/malam berbasis ayam (ayam goreng, semur ayam, gulai, dst.). Ayam juga populer untuk acara kumpul keluarga atau menjamu tamu (karena dianggap disukai semua orang). Pada akhir pekan atau saat acara khusus, hidangan ayam panggang/bakar sering disajikan. Selain itu, ayam hadir di momen perayaan: contohnya saat Idulfitri banyak keluarga memasak opor ayam, pada Natal beberapa merayakan dengan roast chicken, atau syukuran menggunakan ayam ingkung.
Saat sarapan, ayam kurang dominan kecuali dalam bentuk olahan (misal sosis ayam atau nugget dalam roti, atau bubur ayam yang menggunakan daging ayam suwir). Namun di beberapa daerah, sarapan dengan nasi uduk atau lontong opor ayam adalah hal biasa.
Kudapan: Ayam juga dikonsumsi sebagai camilan atau kudapan, contohnya fried chicken potongan kecil, chicken popcorn, sate ayam, dll, terutama oleh anak muda di sela waktu makan.
Intinya, ayam fleksibel untuk segala waktu makan, meski paling menonjol di waktu makan utama. Hal ini berbeda dengan daging merah yang biasanya lebih jarang dan untuk acara spesial.
Alasan mengonsumsi ayam: Terdapat beberapa faktor kunci mengapa konsumen gemar makan ayam:
- Harga terjangkau: Ayam adalah pilihan protein hewani termurah. Dengan anggaran terbatas, konsumen bisa mendapatkan lauk bergizi dengan membeli ayam. Rata-rata harga daging ayam per kg jauh lebih rendah daripada daging sapi atau ikan laut, sehingga ayam menjadi solusi protein bagi semua lapisan ekonomi. Riset Kementan menegaskan harga yang relatif murah ini salah satu alasan konsumsi ayam meningkat[1].
- Rasa dan kesesuaian selera: Daging ayam dikenal memiliki rasa yang relatif netral dan tekstur empuk yang mudah diterima. Dibanding kambing atau ikan yang punya aroma/tulang kuat, ayam disukai banyak orang karena “aman” di lidah. Anak-anak hingga lansia umumnya suka olahan ayam. Selain itu, ayam menyerap bumbu dengan baik, cocok untuk aneka masakan Nusantara (dari rendang ayam di Su
