Ukuran dan Pertumbuhan Pasar RTD di Indonesia (Data Kuantitatif)
Pasar minuman siap minum di Indonesia merupakan segmen besar dan terus bertumbuh. Menurut data USDA via Katadata, penjualan ritel minuman RTD (di luar air mineral) mencapai sekitar Rp 49,5 triliun pada tahun 2024 . Angka ini mendekati penjualan air mineral kemasan (AMDK) yang sekitar Rp 53,8 triliun, menunjukkan betapa pentingnya kategori minuman siap minum bagi industri FMCG. Beberapa sub-segmen kunci antara lain RTD kopi, teh, susu, minuman berenergi, serta minuman rasa buah non-alkohol.
Segmen kopi siap minum dalam kemasan (RTD coffee) menonjol dengan pertumbuhan tinggi. Industri kopi Indonesia secara keseluruhan (termasuk RTD) diproyeksikan bernilai USD 11,58 miliar pada tahun 2025 – sekitar Rp 170 triliun – dengan CAGR 3,5% hingga 2029 . Hal ini menjadikan kopi RTD sebagai salah satu motor utama pertumbuhan industri minuman nasional . Adapun segmen teh siap minum juga besar: estimasi nilai pasar minuman teh (termasuk penjualan di kedai seperti boba tea) di Indonesia mencapai US$2,28 miliar pada 2023 (sekitar Rp 34 triliun), hampir 47% dari total pasar teh se-Asia Tenggara . Grafik di bawah menegaskan dominasi Indonesia dibanding negara ASEAN lain dalam nilai pasar minuman teh siap minum:
Estimasi nilai pasar minuman teh siap minum di Asia Tenggara tahun 2023 (dalam US$ juta). Indonesia menyumbang hampir setengah dari pasar regional .
Pada kategori minuman susu kekinian dan minuman fungsional, nilainya juga signifikan. Penjualan ritel minuman berbasis susu (UHT, yogurt drink, dll) di Indonesia tercatat sekitar Rp 41,1 triliun pada 2024 . Sementara itu, pasar minuman energi dan isotonik diperkirakan bernilai di atas Rp 15 triliun per tahun. Sebuah proyeksi menyebut ukuran pasar energy & sports drinks di Indonesia akan naik dari ~US$1,08 miliar pada 2024 menjadi sekitar US$1,14 miliar pada 2025 (CAGR ~4%) . Selain itu, segmen minuman rasa buah non-alkohol (seperti jus kemasan, fruit tea, soda) juga besar; kategori “minuman siap minum lainnya (jus dan lain-lain)” tercatat sekitar US$3,04 miliar (Rp 49,5 triliun) dalam penjualan ritel 2024 .
Pertumbuhan pasar RTD dipacu oleh menjamurnya pemain baru dan inovasi produk. Nielsen melaporkan bahwa dalam 3 tahun menjelang 2018 saja terdapat lebih dari 100 merek RTD baru masuk ke pasaran Indonesia . Merek-merek lokal maupun asing bersaing ketat merebut “space” di toko ritel modern dan tradisional. Secara keseluruhan, volume konsumsi minuman siap minum nasional terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi. Contohnya, konsumsi teh domestik tumbuh seiring populasi – permintaan teh rumah tangga di Indonesia diprediksi naik 2,62% per tahun hingga 2025 . Dengan potensi pasar yang besar dan bertumbuh, Indonesia menjadi medan persaingan penting bagi produsen RTD di berbagai kategori.
Persentase dan Profil Demografis Konsumen Gen Z
Generasi Z (lahir ±1997–2012) kini menjadi kelompok konsumen kunci di Indonesia dengan populasi sekitar 74,93 juta jiwa (27,94% penduduk) . Profil demografis Gen Z umumnya masih muda (usia remaja hingga pertengahan 20-an); survei menunjukkan mayoritas Gen Z Indonesia berstatus pelajar/mahasiswa atau baru mulai bekerja (sekitar 39% pekerja dan 20% mahasiswa dalam sampel survei Desember 2024) . Ciri lain, 87% responden Gen Z belum menikah dan daya beli mereka bervariasi tergantung dukungan orang tua atau penghasilan awal karier. Meski demikian, Gen Z diketahui memiliki porsi pengeluaran cukup besar untuk kebutuhan gaya hidup seperti makanan dan minuman. Riset UMN Consulting menemukan bahwa makanan ringan dan minuman menempati posisi teratas belanja bulanan Gen Z (disebut oleh 71,76% responden Gen Z sebagai pengeluaran terbesar mereka per bulan) . Artinya, produk F&B, termasuk minuman kekinian, menyita perhatian dan budget Gen Z lebih dari kategori lain.
Dalam konteks minuman siap minum, Gen Z merupakan kontributor signifikan baik dari sisi volume konsumsi maupun tren. Sebagai ilustrasi, Indonesia adalah pasar bubble tea terbesar di Asia Tenggara dan sekitar 41% konsumen minuman boba di Indonesia berasal dari usia 15–22 tahun (usia Gen Z awal) . Laporan media juga menyebut Gen Z sebagai kekuatan utama transformasi pasar kopi RTD: “sebanyak 60% Gen Z menyukai rasa kopi yang kuat dan intens” sehingga produsen pun menyesuaikan produk dengan selera generasi ini . Gen Z dikenal paling rajin ngopi dibanding generasi lain – survei Jakpat 2023 mencatat 66% Gen Z minum kopi setiap hari , lebih tinggi dari persentase milenial yang ngopi harian. Bahkan 37% Gen Z bisa minum 2-3 gelas kopi per hari di waktu-waktu tertentu . Meski hanya ~10% Gen Z yang minum >2 gelas per hari secara rutin (lebih rendah dari milenial), sejumlah 55% Gen Z mengonsumsi kopi occasionally (tidak setiap hari tapi di momen tertentu) sebagai bagian dari aktivitas sosial atau me-time .
Dari sisi kebiasaan, Gen Z sangat akrab dengan budaya jajan minuman. Survei Populix 2023 menemukan Gen Z (bersama milenial) cenderung lebih suka membeli makanan/minuman di luar daripada membuat sendiri. Dalam seminggu, 63% responden Gen Z-Milenial membeli makanan/minuman 1-3 kali secara offline (takeaway) . Sementara 21% memesan makanan/minuman secara online 2-3 kali sebulan, dan 25% bahkan order online 2-3 kali seminggu . Data ini menunjukkan frekuensi tinggi pembelian siap saji oleh Gen Z, termasuk minuman kekinian melalui layanan delivery.
Gen Z juga sangat heterogen, tetapi pola konsumsi minuman kerap dipengaruhi gender dan preferensi rasa. Statistik GoodStats (berdasarkan survei Jakpat 2024) menunjukkan teh manis adalah minuman manis paling populer di kalangan Gen Z – 67% (63% pria, 71% wanita) Gen Z mengonsumsinya secara rutin . Kopi manis berada di peringkat kedua (lebih digemari pria Gen Z dengan selisih 11% dibanding wanita) , dengan estimasi ~53% rata-rata Gen Z mengonsumsinya. Minuman manis modern seperti boba tea, cheese tea, dll juga cukup diminati – sekitar 34,5% (40% wanita vs 29% pria) Gen Z rutin mengonsumsinya . Sementara minuman manis tradisional (cendol, es campur, dll) sekitar 31% dan minuman bersoda ~21% Gen Z【41†source】. Pola ini mencerminkan bahwa wanita Gen Z cenderung lebih suka teh/boba manis, sedangkan pria Gen Z lebih banyak yang “team kopi”. Visualisasi di bawah merangkum popularitas berbagai jenis minuman manis di kalangan Gen Z Indonesia tahun 2024:
Minuman manis yang paling sering dikonsumsi Gen Z Indonesia tahun 2024, berdasarkan jenisnya dan jenis kelamin . Teh manis menempati posisi puncak, diikuti kopi manis, minuman manis modern (boba, thai tea, dll), tradisional, jus buah, milkshake, dan soda.
Secara demografis, Gen Z Indonesia terkonsentrasi di wilayah urban dan sangat melek digital. Mereka tumbuh di era smartphone sehingga berperan sebagai digital natives yang selalu terhubung ke media sosial dan aplikasi. Karakteristik ini memengaruhi perilaku konsumsi mereka, termasuk untuk produk RTD, yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian insight kualitatif.
Saluran Distribusi Utama untuk RTD (Minimarket, E-commerce, Food Delivery, dll)
Minimarket dan convenience store merupakan saluran distribusi paling dominan untuk minuman siap minum di Indonesia, terutama bagi Gen Z. Jaringan minimarket raksasa seperti Indomaret dan Alfamart memiliki puluhan ribu gerai yang menjangkau hingga ke pemukiman. Pada 2024, tercatat ada 23.107 gerai Indomaret di seluruh Indonesia , sementara Alfamart memiliki sekitar 19.638 gerai per Juni 2024 (dan menembus 20 ribu gerai di akhir tahun). Kehadiran minimarket di hampir tiap sudut kota membuat Gen Z mudah membeli minuman RTD (teh botol, kopi kaleng, soda, dll) saat bepergian atau sekadar mampir. Harga terjangkau, sering ada promo, serta varian produk lengkap menjadikan minimarket pilihan favorit anak muda untuk berburu minuman kemasan. Selain itu, beberapa minimarket menyediakan minuman siap saji di tempat (misal mesin kopi self-service atau chiller minuman dingin yang bisa diminum segera), semakin memperkuat perannya sebagai one-stop outlet pelepas dahaga .
Di sisi lain, toko kelontong tradisional dan warung masih berperan, terutama di area perumahan atau sekolah. Namun, Gen Z perkotaan cenderung lebih memilih outlet modern demi kenyamanan dan pilihan produk baru. Nielsen mencatat persaingan merebut ruang display sangat ketat di ritel modern maupun tradisional, mengingat jumlah merek/varian RTD yang terus bertambah . Produsen berupaya memastikan produk mereka tersedia mulai dari hypermarket/supermarket besar hingga kios kecil. Bagi Gen Z, aksesibilitas adalah kunci: mereka akan membeli minuman di tempat terdekat yang mudah dijangkau, entah itu Indomaret depan kantor, vending machine kampus, atau abang asongan di konser musik .
E-commerce dan online delivery menjadi saluran yang pertumbuhannya paling pesat belakangan ini, meski porsinya masih lebih kecil dibanding offline. Kebiasaan belanja online di kalangan Gen Z sangat tinggi – ~95% Gen Z suka belanja online – dan ini meluas ke kategori FMCG. Menurut GoodStats, nilai penjualan FMCG (termasuk makanan/minuman) di e-commerce pada Ramadan 2024 mencapai Rp 7,9 triliun, naik 57% YoY . Produk minuman kemasan pun kini mudah dibeli via marketplace (official store brand, grocery e-commerce) maupun layanan on-demand. Survei Populix menemukan 54% Gen Z-Millennial lebih suka berbelanja produk F&B melalui e-commerce daripada offline, terutama kelas menengah . Alasan utamanya karena harga online sering lebih murah dan banyak promo/free ongkir. Gen Z memanfaatkan e-commerce untuk membeli minuman dalam jumlah lebih besar atau varian khusus yang mungkin tidak selalu ada di toko dekat rumah. Contoh, membeli satu karton minuman favorit via Tokopedia/Shopee saat diskon bulanan.
Selain e-commerce tradisional, Gen Z juga kerap memakai aplikasi food delivery (GoFood, GrabFood, ShopeeFood) untuk membeli minuman siap minum dari berbagai outlet. Layanan ini awalnya populer untuk pesan makanan, tapi kini minuman kekinian menjadi primadona. Data GrabFood regional mengungkap bubble tea termasuk item Top 2 terlaris di layanan mereka (bersama ayam goreng) di Indonesia, Malaysia, Singapura . Bahkan Grab mencatat pesanan bubble tea di Asia Tenggara meningkat 3000% sepanjang 2018 berkat melonjaknya permintaan konsumen . Di Indonesia, tren ini berlanjut; misalnya, GrabFood dan GoFood sering melaporkan es boba dan es kopi susu sebagai minuman paling banyak dipesan tiap tahun. Bagi Gen Z, memesan minuman via ojek online memberi kemudahan dan kecepatan, apalagi saat muncul minuman viral. Populix melaporkan 57% Gen Z/Millennial pernah membeli makanan/minuman via online takeaway dalam sepekan – pertanda integrasi delivery dalam keseharian mereka. Selain itu, promo ongkir dan diskon aplikasi menjadi pendorong Gen Z membeli minuman lewat platform digital .
Saluran HORECA (hotel, restoran, café) juga relevan terutama untuk minuman fresh-prepared seperti kopi specialty atau boba artisan. Kafe adalah destinasi populer Gen Z untuk nongkrong; sebuah survei StatsMe menyebut 71% Gen Z nyaman hangout di kafe sebagai tempat favorit mereka. Di kafe, mereka membeli minuman non-kemasan (kopi fresh brew, mocktail, dsb) yang dinikmati di tempat. Namun banyak coffee chain atau bubble tea shop juga menjual versi bottled atau kemasan praktis untuk dibawa pulang, mengaburkan batas HORECA dan RTD. Sebagai contoh, sejumlah merek kopi susu kekinian menjual bottle series di minimarket, dan sebaliknya merek RTD teh botol kerap dijual dingin di café/canteen.
Singkatnya, minimarket tetap menjadi channel utama penjualan minuman siap minum di Indonesia , didukung jangkauan lu
