Laporan Analisis Perilaku Konsumen Selama Ramadan
1. Profil Responden
Survei melibatkan 1.490–1.500 responden (pengguna internet Indonesia). Mayoritas responden berada di usia produktif (25–44 tahun sekitar 72,5%), dengan porsi usia 25–34 tahun tertinggi (~42,6%). Responden terbanyak berjenis kelamin perempuan (Wanita 56,1%, Pria 43,9%). Secara geografis, dominasi responden berasal dari Pulau Jawa: Jawa 66,4%, DKI Jakarta 17,4%, Sumatra 9,2%, sisanya dari daerah lain (Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa, Maluku-Papua total ≈6%). Data demografi ini penting untuk memahami konteks perilaku: misalnya fokus pemasaran di Jawa dan kebutuhan generasi muda.
| Usia | Persentase | Gender | Persentase | Wilayah | Persentase |
| 18–24 tahun | 6,6% | Wanita | 56,1% | Jawa | 66,4% |
| 25–34 tahun | 42,6% | Pria | 43,9% | DKI Jakarta | 17,4% |
| 35–44 tahun | 29,9% | – | – | Sumatra | 9,2% |
| 45–54 tahun | 14,2% | – | – | Kalimantan | 3,8% |
| 55–64 tahun | 4,9% | – | – | Sulawesi | 2,1% |
| 65+ tahun | 1,9% | – | – | Bali & Nusa Tenggara | 0,9% |
| Total | 100% | – | 100% | Maluku-Papua | 0,2% |
2. Pola Konsumsi Sahur dan Berbuka
Sahur: Sebagian besar responden memilih makanan berat berbasis karbohidrat saat sahur. Hasil survei menunjukkan sekitar 83% responden mengonsumsi nasi pada sahur, disusul lauk protein (telur/ikan) ~35%, sayur ~24%, bubur/porridge ~16%, dan roti ~9%. Hal ini menandakan kebiasaan mengisi energi dengan nasi atau makanan siap saji saat sahur.
| Makanan Sahur | % Responden |
| Nasi | 82,9% |
| Telur/Ikan (protein) | 35,2% |
| Sayur | 23,7% |
| Bubur/Porridge | 16,1% |
| Roti/Bread | 8,9% |
Berbuka: Makanan wajib saat buka puasa cenderung berupa takjil dan minuman segar. Tren nasional juga menunjukkan bahwa “makanan dan minuman menjadi kategori yang paling banyak dibeli masyarakat Indonesia” selama Ramadan. Responden sering menyiapkan kurma, kolak, dan minuman dingin (es kelapa muda, es buah) sebagai menu pembuka. Selain itu, banyak juga yang melengkapi berbuka dengan sup atau makanan utama ringan. Persentase persis tiap menu tidak tersedia, namun pola ini konsisten dengan tren F&B yang kuat di Ramadhan.
Lokasi Berbuka: Sebagian besar (sekitar 80,5%) berbuka di rumah, hanya sebagian kecil yang berbuka di luar (restoran/warung ~6%, masjid/komunitas ~8%) dan di tempat kerja atau lain-lain (~5%). Hal ini menunjukkan keluarga masih menjadi pusat momen berbuka. Persentase detail lokasi:
- Rumah: 80,5%
- Restoran/Warung: ~6,1%
- Masjid/Tempat Ngabuburit: ~8,3%
- Lainnya (kerja/saat bepergian): ~5%
Kebiasaan berbuka di rumah mendukung tren belanja daring makanan siap saji dan kebutuhan memasak keluarga. Konsumsi on-the-go (misalnya takjil delivery atau paket berbuka bersama) juga meningkat karena kenyamanan dan protokol kesehatan sejak pandemi.
3. Aktivitas Menunggu Waktu Berbuka
Survei menunjukkan bahwa responden memilih aktivitas santai sambil menunggu azan Maghrib. Aktivitas favorit adalah menonton TV (26,7%) dan istirahat/tidur (26,3%), kemudian main HP atau media sosial (23,5%). Aktivitas rohani seperti membaca Al-Qur’an atau mendengar ceramah hanya ~10,9%. Ringkasan:
- Menonton TV/streaming: ~26,7%
- Istirahat/Tidur: ~26,3%
- Main ponsel/media sosial: ~23,5%
- Membaca Qur’an/Mendengar tausiyah: ~10,9%
- Olahraga ringan atau lain-lain: sisanya (~12%).
Kebiasaan ini serupa dengan tren konsumen saat Ramadhan yang lebih aktif di media digital. Lonjakan penggunaan internet dan aplikasi memang tercatat naik drastis selama bulan puasa[1]. Masyarakat cenderung mencari hiburan atau informasi online sambil menunggu waktu berbuka, terutama karena banyak program khusus Ramadhan di TV dan platform streaming.
4. Olahraga dan Kesehatan Selama Puasa
Lebih dari setengah responden (≈52,9%) menyatakan tidak pernah berolahraga selama Ramadan, 21,0% hanya jarang berolahraga, sedangkan sebagian kecil berolahraga beberapa kali seminggu (14,3%) atau hampir setiap hari (10,5%). Data ini menunjukkan ada penurunan aktivitas fisik saat berpuasa. Meskipun menahan diri dari makan/minum bisa mengurangi energi, badan kesehatan menyarankan olahraga ringan menjelang berbuka sebagai waktu yang tepat.
Sebagai strategi kesehatan masyarakat: masyarakat dan penyedia layanan F&B sebaiknya menekankan pentingnya sahur bergizi seimbang dan olahraga ringan (misalnya jalan kaki atau senam ringan) agar kesehatan terjaga. Industri dapat mempromosikan produk bergizi (buah, sayur, dan sumber protein) serta program olahraga berbasis komunitas atau konten digital untuk menambah kesadaran.
5. Pentingnya Suasana Ramadan dan Tradisi
Survei menunjukkan lebih dari 80% responden menganggap suasana Ramadan sangat penting (53,5% menyatakan “sangat penting”, 28,6% “penting”). Hanya 3% menganggap kurang penting. Hal ini menandakan identitas religius dan budaya sangat melekat; Ramadan bukan sekadar puasa, tapi juga waktu berkumpul keluarga, beribadah, dan berbagi.
Beberapa tradisi favorit yang disorot responden meliputi: sholat tarawih di masjid (59,6%), buka puasa bersama keluarga/teman (48,7%), tadarus/al-Qur’an (47,7%), memberi zakat/infaq (35,3%) dan kegiatan sosial lainnya. Tren konsumsi juga dipengaruhi peningkatan kebutuhan ibadah: misalnya, permintaan sejadah, buku doa, dan kanal sedekah naik selama Ramadan. Momen pemberian zakat dan infak menjadi bagian perilaku konsumsi dan ekonomi Ramadan.
6. Konteks Pasar dan Tren Eksternal
Berdasarkan data eksternal, Ramadan selalu memacu konsumsi rumah tangga Indonesia, terutama di kategori makanan & minuman serta fesyen. Meski ada tekanan inflasi dan penurunan daya beli awal 2025, Neraca melaporkan bahwa konsumsi Ramadhan 2025 tetap tumbuh (inflasi Maret 2024 mencapai 0,52%, naik dari 0,18% di 2023). Sektor UMKM kuliner justru mendapat dorongan besar (bazaar takjil, pesanan hampers), sedangkan sektor pakaian tumbuh lebih moderat. F&B dikenal sebagai “pemenang ekonomi Ramadan” karena tetap diminati meski situasi ekonomi menantang.
Tren digital juga sangat dominan. Data menunjukkan transaksi belanja online meningkat drastis selama bulan puasa: pertumbuhan transaksi +76,5% dan penambahan konsumen +23,5%[1]. Penggunaan aplikasi e-commerce naik ~30% di periode Ramadan 2025 dibanding tahun sebelumnya. Diskon dan promosi khusus (Ramadan sale) mendorong konsumen berbelanja lebih banyak. Indikasi ini sejalan dengan survei bahwa konsumen lebih memilih belanja daring karena praktis dan harga kompetitif.
Namun, ada sisi hati-hati: laporan ekonomi mencatat gejala “anomali konsumsi” Ramadhan 2025. Beberapa analisis (Core Indonesia) menunjukkan kelompok menengah-bawah cenderung menahan belanja meski biasanya Ramadan menjadi lonjakan pengeluaran. Deflasi awal 2025 dan angka PHK tinggi menunjukkan kekhawatiran daya beli. Neraca juga menyoroti bahwa banyak rumah tangga kini lebih memilih menyimpan uang atau melunasi utang daripada konsumsi besar-besaran. Namun demikian, asosiasi retail optimistis transaksi naik 15–20% selama Ramadan 2025 (meski lebih kecil dari lonjakan 30% tahun lalu).
Ringkasan tren eksternal: Ramadan 2025 tetap mendorong belanja terutama pada makanan/minuman (takjil, kurma, es) dan kebutuhan lebaran (pakaian baru, parsel). Pasar online memimpin pertumbuhan (fokus diskon dan kemudahan belanja digital). Di sisi lain, keluarga dan konsumen terlihat lebih selektif dalam belanja, mengalokasikan dana dengan hati-hati.
7. Rekomendasi Strategis
Berdasarkan data survei dan tren di atas, berikut rekomendasi untuk berbagai pemangku kepentingan:
- Industri F&B dan Retail: Fokus pada kategori makanan/minuman siap konsumsi dan produk segar. Perbanyak kerjasama dengan platform e-commerce (marketplace) untuk promosi bundle takjil dan paket lebaran. Sediakan opsi delivery khusus Ramadan (flat ongkir, pesanan parsel) untuk menarik konsumen yang berbuka di rumah. Pertimbangkan produk inovatif (mis. paket bahan sahur praktis, minuman sehat) sejalan gaya hidup konsumen yang lebih sehat.
- Brand dan Pemasaran: Manfaatkan momentum religi dan sosial. Buat kampanye berbasis suasana Ramadan (nonton TV bersama keluarga, buka puasa bersama, sedekah). Kolaborasi dengan influencer keagamaan dan media (televisi dan digital) bisa menjangkau konsumen yang aktif saat puasa. Tawarkan diskon dan promosi khusus Ramadhan—misalnya bundle promo barang konsumsi atau diskon THR—karena 67% konsumen sebelumnya mengalokasikan sebagian THR untuk belanja.
- Investor dan Pengembang Produk: Perhatikan permintaan musiman. Investasi pada produk atau layanan yang mendukung tradisi Ramadan (mis. layanan pesan-antar takjil, platform donasi zakat online). Sektor kuliner (UMKM makanan takjil, minuman segar) masih menarik. Sedangkan produsen pakaian/aksesoris bisa fokus menggarap segmen Lebaran sebelum Idul Fitri dengan desain syariah/santai modern.
- Pemerintah dan Masyarakat: Pertahankan stabilitas harga bahan pokok dan bahan bakar selama Ramadan untuk menjaga daya beli. Kampanye kesehatan perlu digalakkan (sasaran: meningkatkan konsumsi sahur bergizi dan olahraga ringan di Ramadhan). Perkuat program zakat/infak agar tepat sasaran, mengingat tradisi bersedekah meningkat. Di sisi ekonomi, dorong UMKM untuk memanfaatkan e-commerce dan digital marketing agar semakin inklusif.
Pelaksanaan rekomendasi ini diharapkan dapat membantu stakeholder (investor, brand, pelaku F&B, dan masyarakat) memanfaatkan peluang Ramadan secara optimal, sambil tetap waspada terhadap tantangan ekonomi dan menjaga nilai-nilai sosial-keagamaan yang penting selama bulan suci.
Sumber: Data survei puasa Ramadhan (2025) serta literatur ekonomi dan tren konsumsi terkini.
Transaksi Belanja Online Rata-Rata Naik 76,5% Selama Ramadan - Islami Liputan6.com
Tips Olahraga selama Berpuasa - Direktorat SMP
https://ditsmp.kemendikdasmen.go.id/ragam-informasi/article/tips-olahraga-selama-berpuasa
Waktu yang tepat untuk olahraga saat puasa agar tubuh tidak lemas
Anomali Ekonomi RI: Masyarakat Tahan Belanja pada Ramadan 2025 - Market
