Pendahuluan
Tren memelihara hewan peliharaan di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah survei global tahun 2023 mencatat bahwa nilai industri hewan peliharaan secara global mencapai US$320 miliar pada 2023 dan diproyeksikan mendekati US$500 miliar pada 2030 . Pertumbuhan ini didorong oleh fenomena humanization of pets, di mana pemilik semakin menganggap hewan peliharaan sebagai bagian keluarga dan rela mengalokasikan anggaran lebih untuk kebutuhan hewan. Di Indonesia sendiri, peningkatan jumlah pemilik hewan sangat pesat – naik sekitar 75,7% selama 2017-2022 – beriringan dengan pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, serta tren mencari kenyamanan dan teman dari hewan peliharaan. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu pasar pet care yang menjanjikan di Asia.
Laporan ini menyajikan analisis mendalam perilaku belanja pemilik hewan di Indonesia berdasarkan data survei terkini (Desember 2024) yang melibatkan 1.187 responden (1.138 di antaranya pemilik hewan peliharaan). Berbagai aspek dibahas, antara lain: kategori pengeluaran terbesar, frekuensi kunjungan ke dokter hewan, jenis pakan yang diberikan, lokasi pembelian kebutuhan hewan, serta minat terhadap layanan tambahan seperti langganan pakan dan konsultasi dokter hewan secara online. Temuan data ini dilengkapi dengan insight eksternal mengenai tren pasar hewan peliharaan di Indonesia dan global – termasuk pertumbuhan industri, kebiasaan konsumen, dan potensi inovasi layanan – untuk memberikan gambaran komprehensif bagi brand, investor, maupun pelaku bisnis di sektor ini dalam pengambilan keputusan strategis.
Profil Pemilik dan Hewan Peliharaan di Indonesia
Survei menunjukkan bahwa mayoritas responden (95%) memiliki setidaknya satu hewan peliharaan di rumahnya (hanya 5% yang tidak memiliki, namun beberapa di antaranya berminat untuk memelihara di masa depan). Dari para pemilik hewan, jenis hewan peliharaan yang dimiliki sangat didominasi oleh kucing, diikuti oleh anjing dan jenis lain. Data riset TGM Research 2024 menemukan sekitar 71% pemilik hewan di Indonesia memelihara kucing, sementara 15% memelihara anjing, dan sisanya ikan, hamster, kelinci, atau lainnya . Hal ini sejalan dengan hasil survei internal yang menunjukkan kucing sebagai hewan peliharaan terpopuler, disusul anjing, ikan, dan hewan kecil lain. Faktor budaya turut memengaruhi tren ini – misalnya, preferensi terhadap kucing lebih tinggi karena anjing dianggap kurang sesuai bagi sebagian masyarakat, sehingga populasi anjing peliharaan relatif rendah dibanding negara lain.
Sebagian besar rumah tangga pemilik hewan memiliki 1-2 ekor hewan peliharaan. Hewan peliharaan yang dimiliki pun umumnya berusia muda hingga paruh baya, dengan rentang usia bervariasi tergantung jenisnya – misalnya banyak kucing dan anjing peliharaan berusia antara 1 hingga 5 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa komunitas pemilik hewan di Indonesia cukup aktif dan baru bertumbuh, dengan banyak orang mulai memelihara hewan dalam beberapa tahun terakhir. Alasan memelihara hewan beragam, mulai dari sekadar hobi dan mencari hiburan/teman di rumah, hingga dorongan emosional pasca-pandemi untuk mengatasi stres dan kesepian.
Dari sisi demografis, pemilik hewan peliharaan di Indonesia tersebar di berbagai kelompok usia dan wilayah. Proporsi pemilik hewan cenderung lebih tinggi di kalangan dewasa muda (usia 20-35 tahun) dan di area perkotaan, seiring dengan meningkatnya tren pet parenting di kota besar. Meski demikian, kepemilikan hewan juga populer di berbagai lapisan masyarakat termasuk di pedesaan, di mana pemeliharaan hewan (khususnya kucing) sering dianggap tidak terlalu membebani karena hewan dapat dibiarkan berkeliaran dan hidup semi-independen . Tingginya angka pemilik hewan (lebih dari 70% populasi menurut beberapa survei ) menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan tingkat pet ownership yang tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Pola Pengeluaran Bulanan Pemilik Hewan
Rata-rata pengeluaran bulanan pemilik hewan peliharaan di Indonesia berada pada kisaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung jenis hewan dan jumlahnya. Survei internal menanyakan berapa besar pengeluaran pemilik untuk kebutuhan hewan tiap bulan; hasilnya bervariasi, namun umumnya berada di rentang Rp500 ribu hingga di atas Rp1 juta per bulan. Temuan eksternal mendukung angka ini: menurut survei Intage Group, rata-rata biaya memelihara kucing di Indonesia sekitar Rp1,41 juta/bulan, sedikit lebih tinggi daripada memelihara anjing yang rata-rata Rp1,36 juta/bulan . Nilai ini mencakup berbagai komponen seperti pakan, litter, perawatan kesehatan, dan lain-lain. Pengeluaran bulanan tentu dipengaruhi oleh ukuran hewan (anjing besar cenderung butuh pakan lebih banyak daripada kucing), jenis pakan (produk premium vs. ekonomis), serta frekuensi penggunaan layanan (misal grooming profesional vs. grooming sendiri di rumah).
Kategori pengeluaran terbesar para pemilik cenderung terfokus pada beberapa pos utama. Berdasarkan survei, kategori berikut menonjol sebagai pengeluaran paling besar untuk hewan peliharaan mereka:
- Pakan (Makanan hewan): Ini merupakan pos pengeluaran terbesar bagi sebagian besar pemilik. Makanan hewan menjadi kebutuhan rutin sehari-hari, sehingga secara total menyumbang porsi terbesar dari anggaran pemeliharaan. Di keempat negara Asia yang disurvei dataSpring 2023 (termasuk Indonesia), pakan menempati porsi terbesar dalam struktur pengeluaran pemilik hewan . Di Indonesia, banyak pemilik yang memberikan pakan kering komersial (kibble) sebagai makanan utama, disertai pakan basah atau tambahan lain. Konsistensi pembelian pakan tiap minggu/bulan membuat pos ini dominan.
- Kesehatan (Biaya dokter hewan & obat/vaksin): Pengeluaran untuk kesehatan hewan – misalnya biaya vaksinasi, check-up ke dokter hewan, obat-obatan, hingga penanganan saat hewan sakit – merupakan pos besar berikutnya. Meskipun tidak dikeluarkan setiap bulan, biaya sekali kunjungan ke klinik bisa cukup mahal (rata-rata Rp50-200 ribu per kunjungan rutin, belum termasuk tindakan atau obat khusus ). Bagi pemilik yang hewannya pernah sakit serius atau butuh perawatan khusus, pos ini bahkan bisa menjadi pengeluaran terbesar sepanjang tahun tersebut. Namun bagi pemilik hewan yang relatif sehat, biaya vet hanya muncul 1-2 kali setahun untuk vaksin dan check-up.
- Grooming & Perawatan: Grooming (mandi, potong bulu, perawatan kebersihan) serta penitipan hewan juga menyerap sebagian anggaran pemilik, terutama bagi yang rutin menggunakan jasa profesional. Menariknya, survei regional menemukan Indonesia memiliki proporsi pengeluaran tertinggi untuk layanan grooming/kecantikan hewan di antara negara Asia – mencapai 18,6% dari total pengeluaran untuk anjing dan 17,9% untuk kucing . Angka ini tertinggi dibanding Thailand, Tiongkok, dan India, menunjukkan banyak pemilik di Indonesia rela mengeluarkan biaya untuk merawat penampilan dan kebersihan hewan peliharaannya. Biaya grooming profesional per sesi berkisar Rp70-150 ribu atau lebih, dan jika dilakukan rutin (misal sebulan sekali) tentunya menjadi komponen signifikan. Bagi pemilik kucing, biaya perawatan bisa termasuk pasir kucing (litter), shampoo, dan produk kebersihan lain yang rutin dibeli, sehingga masuk kategori ini.
- Perlengkapan & Aksesori: Kategori lain seperti aksesoris, mainan, kandang, pakaian hewan, vitamin/suplemen, dan sebagainya umumnya bukan pengeluaran terbesar, namun tetap menyita porsi tersendiri. Beberapa pemilik hobi membeli mainan atau aksesoris lucu untuk hewan mereka, namun frekuensinya tidak setinggi membeli pakan atau layanan wajib. Kategori ini cenderung sporadis dan tergantung gaya hidup pemilik (misal penggemar fashion hewan akan belanja pakaian atau aksesoris secara berkala).
Dari komposisi di atas, jelas bahwa pakan dan kesehatan adalah dua pilar utama pengeluaran pemilik hewan, dengan grooming/perawatan menjadi faktor ketiga yang cukup penting. Survei Intage mencatat perbedaan menarik: rata-rata pengeluaran terbesar pemilik kucing justru pada belanja perawatan/kecantikan (grooming), sedangkan untuk anjing terbesar pada belanja makanan . Ini mungkin mencerminkan perilaku bahwa pemilik kucing di Indonesia relatif lebih sering menggunakan layanan grooming atau membeli produk perawatan, sementara pemilik anjing menghabiskan lebih banyak untuk pakan (karena porsi makan anjing umumnya lebih besar). Bagi bisnis pet care, pola ini mengindikasikan potensi pasar yang besar baik di segmen pet food maupun pet services seperti grooming. Merek makanan hewan premium juga semakin diminati; CEO Magpie Intelligence mengungkapkan permintaan produk pakan hewan premium kian meningkat pesat di Indonesia seiring pemilik yang makin memperhatikan nutrisi dan kualitas untuk hewan kesayangannya .
Sebagai gambaran tambahan, pengeluaran rutin bulanan terbanyak dialokasikan untuk: pakan harian, camilan hewan, dan pasir (untuk kucing), sedangkan pengeluaran tahunan yang perlu diantisipasi biasanya vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan. Tak jarang pemilik harus menabung atau menyisihkan dana darurat untuk berjaga-jaga jika hewan sakit mendadak, mengingat biaya dokter hewan di Indonesia umumnya out-of-pocket (dibayar sendiri karena asuransi hewan masih jarang). Hampir tidak ada responden survei yang menyebut membayar premi asuransi hewan secara rutin – artinya asuransi hewan peliharaan belum populer di Indonesia. Ini menjadi catatan bahwa meskipun asuransi hewan dapat meringankan beban biaya kesehatan, kesadaran dan ketersediaan produk asuransi ini masih sangat rendah di pasar lokal.
Frekuensi Kunjungan ke Dokter Hewan
Meskipun kesehatan hewan adalah aspek penting, frekuensi kunjungan ke dokter hewan di kalangan pemilik Indonesia cenderung tidak terlalu sering. Data survei memperlihatkan bahwa mayoritas pemilik membawa hewan peliharaannya ke dokter hewan hanya pada saat diperlukan, misalnya untuk vaksinasi tahunan atau ketika hewan mengalami sakit/cedera. Hanya sebagian kecil yang menjadwalkan kunjungan rutin berkala tanpa menunggu gejala (misalnya check-up setiap 6 bulan). Secara umum, pola kunjungan ke vet dapat diuraikan sebagai berikut:
- Vaksinasi & Check-up Tahunan: Sekitar lebih dari separuh responden minimal mengunjungi dokter hewan 1-2 kali setahun, terutama untuk vaksinasi rutin dan sterilisasi atau konsultasi umum. Kunjungan ini biasanya terencana (misal vaksin rabies atau 4-in-1 setahun sekali untuk anjing/kucing ). Bagi hewan muda, kunjungan bisa lebih sering di tahun pertama kehidupan untuk vaksin seri lengkap , namun setelah itu umumnya cukup tahunan.
- Hanya Saat Sakit/Darurat: Sebagian besar pemilik lainnya (sekitar 30-40% berdasarkan indikasi survei) mengaku tidak membawa hewannya ke vet kecuali saat sakit atau muncul masalah serius. Artinya, mereka tidak melakukan check-up rutin. Pola ini mungkin disebabkan pertimbangan biaya dan akses; banyak yang memilih “tunggu sakit dulu” baru ke dokter, ketimbang pemeriksaan preventif. Apalagi jika hewan tampak sehat, pemilik cenderung merasa belum perlu dibawa ke klinik. Hal ini sejalan dengan kendala yang dirasakan pemilik; survei Intage menemukan merawat hewan saat sakit menjadi salah satu kekhawatiran pemilik (8,2% responden menyebut ini sebagai tantangan) , yang bisa mengindikasikan kekhawatiran atas biaya atau kesulitan perawatan medis hewan.
- Rutin/Frekuensi Tinggi: Hanya porsi kecil (mungkin <10%) pemilik yang sangat rutin ke dokter hewan, misalnya setiap bulan atau dua bulan sekali. Kelompok ini biasanya terdiri dari pemilik hewan dengan kebutuhan khusus (hewan ras mahal, atau hewan dengan kondisi kesehatan kronis yang butuh monitoring), atau mereka yang sangat peduli dan memiliki anggaran lebih untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh secara berkala. Misalnya, beberapa pemilik anjing ras besar mungkin m
