50 Inovasi Consulting Logo
Free

Perilaku Gen Z Indonesia dalam Membeli Rumah: Tren, Tantangan, dan Solusi 2025

Laporan mendalam tentang kemampuan Gen Z Indonesia membeli rumah tahun 2025. Analisis perilaku konsumen, tren harga properti, tantangan finansial, preferensi lokasi, hingga solusi KPR & inovasi untuk pengembang, investor, dan pembuat kebijakan.

Pendahuluan

Generasi Z Indonesia (lahir ±1997–2012) menghadapi tantangan unik dalam mencapai kepemilikan rumah di usia muda. Harga properti melonjak dalam beberapa tahun terakhir sementara pendapatan rata-rata generasi ini relatif terbatas . Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan menyatakan generasi muda akan semakin sulit memiliki rumah karena mahalnya lahan dan risiko kenaikan suku bunga KPR – situasi yang membuat harga rumah “tidak sebanding dengan pendapatan mereka”. Meski demikian, minat Gen Z untuk memiliki hunian sendiri tetap tinggi. Laporan ini menyajikan temuan survei “Kemampuan Gen Z Membeli Rumah” (Januari–Februari 2025, 280 responden Gen Z Indonesia) tentang perilaku konsumen terkait kepemilikan rumah, diperkaya riset eksternal terbaru. Kami membahas tren pasar properti Indonesia (dan sekilas global), preferensi serta tantangan Gen Z dalam membeli rumah, data finansial (harga rumah vs. kemampuan beli, opsi pembiayaan), hingga inovasi/solusi potensial. Pada akhir laporan, disampaikan insight dan rekomendasi strategis bagi pengembang properti, investor, lembaga keuangan, dan pembuat kebijakan untuk mendukung keputusan bisnis dan investasi.

Profil Responden Gen Z dan Kondisi Tempat Tinggal Saat Ini

Survei melibatkan 280 responden Gen Z (Indonesia) dengan metodologi survei kuantitatif online (CAWI) periode 28 Jan – 3 Feb 2025 (margin error ±5,9%). Mayoritas responden saat ini belum tinggal di hunian milik sendiri. Sebanyak 52,5% masih tinggal di rumah milik keluarga (orang tua/saudara), menandakan ketergantungan yang tinggi pada keluarga untuk tempat tinggal di usia muda. Hanya 28,2% responden yang telah menempati rumah/apartemen milik sendiri, menunjukkan sebagian kecil Gen Z sudah berhasil membeli atau memiliki rumah (mungkin melalui bantuan keluarga atau warisan). Sisanya, 12,9% tinggal di rumah kontrakan atau apartemen sewa, dan 6,4% lainnya menyewa kamar kost. Dengan kata lain, sekitar 1 dari 5 Gen Z menyewa hunian, sementara lebih dari separuh masih tinggal bersama keluarga. Data ini sejalan dengan tren nasional di mana banyak anak muda memilih menyewa terlebih dahulu dan menunda pembelian rumah hingga usia yang lebih matang. Riset platform co-living Cove menunjukkan generasi baby boomer dulu cenderung membeli rumah di usia awal 20-an, sedangkan Milenial dan Gen Z baru mampu membeli di usia awal 30-an. Tingginya harga rumah dan faktor finansial membuat banyak Gen Z lebih memilih menyewa hunian dengan fasilitas lengkap (termasuk opsi kos atau co-living premium) sebelum membeli rumah .

Dari segi lokasi, responden survei tersebar di berbagai daerah Indonesia (sesuai data demografi, tidak ditampilkan rinci di sini). Preferensi lokasi akan dibahas pada bagian terpisah. Yang jelas, 81 juta Milenial di Indonesia hingga saat ini belum memiliki rumah dan 52% Gen Z menginginkan rumah sendiri namun hanya mampu di segmen harga terbatas – hal ini menggambarkan skala tantangan yang dihadapi generasi muda secara umum.

Keinginan Gen Z untuk Membeli Rumah dalam 5 Tahun ke Depan

Minat Gen Z untuk memiliki rumah sangat tinggi. Survei menunjukkan 81,4% responden Gen Z berniat membeli rumah dalam 5 tahun ke depan, sementara 12,5% masih ragu-ragu, dan hanya 6,1% yang tidak berniat. Dominasi responden yang menjawab “Ya” mencerminkan dorongan aspirasi: terlepas dari tantangan finansial, mayoritas Gen Z memiliki impian dan tekad kuat untuk menjadi pemilik hunian sebelum usia 30-an. Temuan ini konsisten dengan riset 99 Group yang mencatat minat generasi muda membeli rumah pertama mencapai ~64–65%, baik untuk Gen Z maupun milenial. Artinya, kepemilikan rumah masih dianggap sebagai pencapaian penting dan bagian dari kestabilan finansial jangka panjang bagi generasi ini.

Menariknya, preferensi menyewa vs membeli di kalangan Gen Z juga dipengaruhi kondisi finansial. Sebuah survei Jakpat (587 responden Gen Z) menemukan 36% Gen Z Indonesia lebih memilih menyewa hunian untuk saat ini karena merasa belum siap secara finansial untuk membeli. Jadi, meskipun keinginan memiliki rumah 5 tahun ke depan tinggi, banyak yang menyadari belum mampu dalam waktu dekat sehingga mengambil opsi sewa sambil menabung. Hal ini tercermin dalam survei kita: dari 280 responden, 17 orang yang menyatakan tidak ada niat beli (6,1%) kemungkinan adalah mereka yang mantap memilih opsi sewa atau menunda rencana rumah sama sekali.

Sebagai perbandingan global, tren Gen Z di negara lain menunjukkan variasi. Di Amerika Serikat, Gen Z justru mulai memasuki pasar properti lebih agresif: mereka kini menyumbang 1 dari 4 kredit rumah untuk pembeli pertama, dan tingkat kepemilikan rumah Gen Z di AS telah melampaui Milenial maupun Gen X pada usia yang sama. Hal ini terjadi meskipun harga rumah di sana melonjak pasca pandemi. Strategi yang ditempuh Gen Z AS antara lain berpindah ke kota yang lebih terjangkau dan disiplin menabung, bahkan beberapa mendapat bantuan uang muka dari orang tua. Fenomena ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan finansial dan dukungan, Gen Z bisa menembus pasar properti, namun konteks Indonesia sedikit berbeda mengingat tingkat harga vs pendapatan serta kebijakan yang berlaku.

Kendala Utama dan Tantangan Finansial dalam Membeli Rumah

Meskipun antusias, Gen Z menghadapi berbagai kendala utama dalam mewujudkan pembelian rumah. Survei menanyakan hambatan terbesar yang dirasakan responden. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar berikut.

Kendala utama yang dirasakan Gen Z dalam membeli rumah berdasarkan survei (N=280). “Penghasilan belum mencukupi” dan “Harga rumah terlalu mahal” mendominasi hambatan.

Terlihat kendala finansial mendominasi:

  1. Penghasilan yang belum mencukupi – disebut oleh 57,9% responden sebagai hambatan utama. Ini menegaskan bahwa daya beli Gen Z relatif rendah terhadap harga rumah saat ini. Banyak Gen Z baru mulai bekerja dengan gaji entry-level, sehingga menyisihkan dana besar untuk KPR atau DP sangat sulit. Contohnya, upah minimum (UMR) di banyak daerah hanya sekitar separuh dari harga rumah termurah yang tersedia, sehingga mustahil membeli rumah tanpa peningkatan pendapatan signifikan.
  2. Harga rumah yang terlalu mahal – dinyatakan oleh 22,9% responden. Dalam 3 tahun terakhir, harga rumah di Indonesia naik sekitar 10% menurut indeks Rumah.com. Kenaikan ini melampaui pertumbuhan gaji rata-rata Gen Z (yang cenderung stagnan), menciptakan kesenjangan makin lebar antara harga properti dan pendapatan generasi muda . Akibatnya, rumah semakin tidak terjangkau bagi mereka.
  3. Biaya uang muka (DP) yang tinggi – 12,9% responden menganggap DP sebagai kendala utama. Umumnya bank mensyaratkan DP 15–20% dari harga rumah. Untuk rumah seharga Rp500 juta misalnya, DP yang dibutuhkan sekitar Rp75–100 juta. Angka ini jauh di luar jangkauan tabungan kebanyakan Gen Z. Ilustrasi: perlu menabung ~Rp1,7 juta per bulan selama 5 tahun agar terkumpul Rp100 juta. Tidak heran banyak yang kesulitan menyiapkan DP.
  4. Cicilan KPR tidak terjangkau – 4,3% responden merasa simulasi angsuran KPR per bulan terlalu besar bagi kemampuan mereka. Dengan suku bunga KPR efektif ~9–10% per tahun, cicilan untuk rumah standar bisa melebihi 30–40% dari penghasilan fresh graduate, melampaui batas kemampuan bayar ideal.
  5. Faktor lain (mis. lokasi, administrasi) disebut sangat minor: 0,7% menjawab “Lainnya” dan 1,4% tidak menjawab. Ini mengindikasikan hampir semua responden sadar akan kendala ekonomi sebagai penghalang utama.

Hasil survei ini diperkuat oleh riset kualitatif lain. BRIN dan berbagai media mencatat beberapa faktor yang membuat Gen Z sulit membeli rumah, antara lain:

  1. Pendapatan awal karier yang rendah: Banyak Gen Z baru merintis karier dengan gaji terbatas. Ditambah persaingan pasar kerja yang ketat – pada 2022 ada 937 ribu pencari kerja di Indonesia – membuat tidak mudah bagi Gen Z mendapatkan pekerjaan berpendapatan tinggi di awal.
  2. Harga lahan dan rumah melonjak: Selain kenaikan 10% dalam 3 tahun, laju inflasi harga properti kerap tidak sebanding pertumbuhan income. Sri Mulyani menyebut harga rumah naik jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji generasi muda. Bahkan setelah pandemi, harga properti residensial terus diprediksi naik hingga 2024. Kombinasi gaji stagnan dan harga naik menciptakan housing affordability crisis bagi Gen Z.
  3. Beban biaya hidup dan inflasi: Biaya hidup (makanan, transportasi, dll) terus meningkat, yang mengurangi porsi pendapatan yang bisa ditabung untuk rumah. Di kota besar, menyisihkan uang untuk DP kompetitif semakin sulit karena pengeluaran dasar tinggi.
  4. Gaya hidup konsumtif & utang: Sebagian Gen Z rentan terdorong tren konsumtif di media sosial – gadget baru, fesyen, hangout – yang menguras pendapatan jika tidak dikontrol. Selain itu, kemudahan kredit digital dan paylater bisa menjebak mereka dalam utang konsumtif. OJK mencatat aplikasi pinjaman online yang mudah diakses tanpa literasi keuangan memadai dapat mendorong anak muda berutang untuk keinginan jangka pendek . Utang konsumtif jelas menghambat kemampuan menabung DP rumah.
  5. Tanggung jawab keluarga (Sandwich generation): Banyak Gen Z turut menanggung biaya keluarga, misalnya membantu finansial orang tua atau adik, yang mengurangi kemampuan menabung pribadi. Data Pinhome-YouGov terbaru menunjukkan ada 41 juta orang Indonesia (26% Gen Z) yang tergolong “generasi sandwich” – menopang keuangan keluarga selain diri sendiri. Prioritas ini membuat membeli rumah sendiri jadi agenda sekunder.
  6. Prosedur pembelian rumit & kualitas properti: Faktor non-finansial seperti proses legalitas yang panjang, birokrasi KPR, hingga kekhawatiran kualitas bangunan juga disebut menjadi perhatian. ~13% responden survei kita memilih kendala DP/cicilan, yang sedikit banyak terkait proses KPR. Rizky Kusumo (Cove) menambahkan bahwa banyaknya prosedur membeli rumah dan ketidakpastian kualitas bangunan (khususnya di proyek baru) membuat sebagian anak muda enggan repot membeli.

Singkatnya, tantangan utama Gen Z sangat berfokus pada aspek finansial (income < harga), diperparah sejumlah faktor pendukung (gaya hidup, utang, tanggungan keluarga). Kombinasi ini menjelaskan mengapa rata-rata usia pembeli rumah pertama kini mundur ke awal 30-an. Meskipun demikian, tantangan ini bukan tanpa solusi – bagian selanjutnya akan membahas kemampuan daya beli, preferensi Gen Z, serta upaya yang sudah dan bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Keterjangkauan Harga Rumah: Daya Beli vs. Harga Pasar

Berapa harga rumah yang dianggap terjangkau oleh Gen Z? Survei menanyakan kisaran harga rumah yang “terjangkau” menurut responden. Hasilnya mencerminkan daya beli realistis Gen Z berada di segmen bawah:

  1. 42,2% responden hanya mampu pada harga di bawah Rp200 juta. Ini mencakup rumah sangat sederhana atau subsidi, biasanya di pinggiran kota/kawasan perdesaan.
  2. 30,0% menyebut rentang Rp200–400 juta sebagai terjangkau. Segmen < Rp400 juta ini jika digabung mencakup 72% Gen Z – selaras dengan data Kementerian PUPR bahwa sekitar 52% Gen Z hanya mampu membeli rumah < Rp400 juta (dan sisanya mungkin berharap pada subsidi atau cicilan panjang).
  3. 12,5% memilih Rp400–600 juta sebagai range terjangkau.
  4. Semakin sedikit yang sanggup lebih tinggi: hanya 8,7% merasa harga Rp600–800 juta masih terjangkau, dan 4,2% menyebut Rp800 juta – Rp1 miliar.
  5. Hampir tidak ada (hanya 1,9%) yang menganggap di atas Rp1 miliar terjangkau – menegaskan bahwa segmen rumah menengah-atas di luar jangkauan Gen Z rata-rata.
  6. 0,4% tidak tahu/tidak menjawab.

Praktis, tiga perempat Gen Z menargetkan rumah di bawah Rp400 juta. Ini tantangan tersendiri karena harga pasar rumah di perkotaan umumnya jauh di atas itu. Contohnya, menurut situs listing properti, per 2025 harga median rumah di pinggiran Jakarta (Bogor/Depok/Tangerang) bisa di kisaran Rp500–800 juta untuk tipe sederhana, sedangkan di Jakarta sendiri sering > Rp1 M. Data Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial baru tumbuh terbatas ~1,4% y/y pada akhir 2024, tetapi titik harganya sudah tinggi setelah kenaikan bertahun-tahun. Bahkan dengan insentif, rumah di kota besar tetap mahal bagi fresh graduate. Pinhome mencatat lonjakan permintaan rumah sederhana (<Rp200 juta) di area penyangga Jakarta seperti Kabupaten Tangerang (naik 120% pada 2024), menandakan banyak Gen Z beralih ke lokasi pinggiran demi mendapatkan harga sesuai kantong. Tren serupa tampak di daerah lain – permintaan rumah murah meningkat ratusan persen di Lampung, Balikpapan, Sukabumi, Malang – kemungkinan didorong kalangan muda pembeli rumah pertama.

Pemerintah dan industri merespon kebutuhan segmen ini dengan berbagai program. Program 1 Juta Rumah dan skema FLPP/subsidi perumahan fokus menyediakan rumah di bawah Rp150–200 juta. Pinhome mengamati keselarasan pembangunan Program 3 Juta Rumah dengan permintaan rumah sederhana; wilayah dengan lonjakan minat rumah <200 juta (contoh: Sepatan, Pasar Kemis di Tangerang) mulai menjadi prioritas pembangunan. Selain itu, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) 100% untuk rumah <Rp2 miliar yang diperpanjang hingga Juni 2025 membantu menurunkan harga efektif rumah kelas menengah-bawah. Kebijakan ini tahun lalu sukses meningkatkan penjualan rumah segmen tersebut 54% (Q4 2023 vs Q4 2024). Dengan perpanjangan insentif, diharapkan transaksi rumah pertama oleh Milenial/Gen Z terus tumbuh.

Dari sisi suplai, tahun 2024-2025 pasar properti relatif pembeli-sentris untuk segmen kecil-menengah. Laporan Bank Indonesia mengindikasikan penjualan rumah tipe kecil-menengah turun signifikan pada 2024 (penurunan penjualan masing-masing 23,7% dan 16,6% yoy di Q4 2024), sedangkan penjualan rumah besar naik. Stok (inventori) perumahan pun melonjak 130% di 2024 menurut Pinhome, melebihi pertumbuhan permintaan. Akibatnya di beberapa area harga cenderung stagnan atau terkoreksi. Pinhome Home Value Index menunjukkan kecenderungan penurunan harga jual rumah di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat untuk tipe rumah tertentu (tipe ~54 m2 turun ~10% atau Rp70 juta). Ini membuka peluang bagi Gen Z yang siap membeli, khususnya di kota besar: pasar mulai kompetitif dengan diskon di beberapa lokasi. Selain itu, opsi properti vertikal (apartemen) yang lebih terjangkau di lokasi strategis tersedia sebagai alternatif – meski preferensi budaya cenderung ke rumah tapak, apartemen kecil dapat menjadi pintu masuk kepemilikan aset bagi Gen Z dengan budget terbatas.

Secara keseluruhan, daya beli Gen Z saat ini “hanya masuk” di kelas rumah subsidi/sederhana, sehingga dukungan suplai di segmen itu krusial. Tanpa intervensi, backlog rumah terjangkau bagi generasi muda akan terus membesar.

Preferensi Lokasi dan Tipe Hunian Gen Z

Selain harga, lokasi dan jenis properti merupakan pertimbangan konsumen muda. Survei meminta Gen Z memilih prioritas utama dalam menentukan lokasi rumah idaman (dengan asumsi harga terjangkau). Hasil prioritas lokasi (N=263, yang berminat beli):

  1. Kelengkapan fasilitas umum – faktor paling banyak diprioritaskan (37,3%) responden. Gen Z menginginkan rumah di area dengan infrastruktur lengkap: dekat sekolah, pusat perbelanjaan (mall), layanan kesehatan, dll. Generasi ini cenderung value convenience, memandang fasilitas lingkungan lebih penting daripada status lokasi pusat kota itu sendiri.
  2. Harga lahan terjangkau (meski di pinggiran) – diprioritaskan oleh 20,5% responden. Ini sejalan dengan data sebelumnya bahwa banyak yang rela ke pinggiran demi harga lebih murah. Artinya, kompromi lokasi bukan masalah besar asalkan harganya cocok. Hal ini nyambung dengan meningkatnya minat kawasan suburban yang masih terjangkau.
  3. Akses transportasi publik yang mudah – prioritas bagi 17,9% responden. Ketersediaan transportasi massal (KRL, MRT, BRT) menjadi pertimbangan signifikan. Ini menunjukkan Gen Z menghargai mobilitas dan kemungkinan ingin mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, baik karena alasan praktis maupun finansial.
  4. Dekat dengan pusat kota – hanya 12,9% yang menjadikan ini prioritas utama. Menarik bahwa hanya minoritas Gen Z yang ngotot ingin lokasi pusat kota. Padahal stereotip generasi muda ingin gaya hidup urban. Data ini menandakan mereka realistis: lokasi prime biasanya mahal dan lahan sempit, sehingga bukan faktor utama kecuali untuk sebagian kecil.
  5. Dekat dengan tempat kerja/kampus – hanya 11,0% memprioritaskan ini. Meskipun tinggal dekat kantor/kampus menghemat waktu, nampaknya Gen Z lebih fleksibel soal commute asalkan fasilitas umum ada dan transportasi publik mudah. Kemungkinan karena banyak yang berpindah kerja atau WFH hybrid, sehingga lokasi kerja bisa berubah.
  6. Tidak tahu/tidak jawab – sekitar 0,4% (sedikit sekali).

Hasil di atas menggambarkan preferensi lokasi Gen Z bersifat pragmatis: mereka lebih mengejar kemudahan hidup (fasilitas lengkap, transportasi) dan keterjangkauan, daripada prestige lokasi atau kedekatan dengan kantor. Ini insight penting bagi developer – proyek di pinggiran kota dengan harga lebih rendah namun menyediakan fasilitas township lengkap dan akses transport memadai akan menarik bagi segmen muda.

Namun, preferensi ini bisa berbeda dalam konteks investasi. Survei GoodStats (2024) menunjukkan mayoritas Gen Z cenderung menyukai rumah di dekat pusat kota (Jabodetabek) jika ditanya lokasi investasi ideal , sementara milenial justru lebih memilih pinggiran Jakarta (Bodetabek) untuk investasi. Mungkin Gen Z memandang pusat kota punya prospek nilai tinggi, tetapi untuk hunian pertama mereka pragmatis memilih di mana yang penting nyaman dan terjangkau.

Tipe properti favorit Gen Z adalah rumah tapak. Budaya Indonesia yang menganggap rumah tapak sebagai “rumah impian” tercermin di data: Riset 99 Group melaporkan 64,4% Gen Z lebih menyukai rumah tapak, dan hanya 9,0% yang berminat apartemen sebagai hunian pertama . Sisanya memilih properti jenis lain atau ragu. Preferensi serupa tampak pada milenial (64,5% pilih rumah tapak vs 9,4% apartemen) . Alasan umum: rumah tapak dianggap lebih lega, bisa diperluas, nilai tanahnya naik, serta bebas biaya service charge. Apartemen kurang diminati mungkin karena unit kecil, biaya bulanan tinggi, dan kepemilikan yang “berbatas waktu” (HGB).

Meski demikian, apartemen mungil di lokasi strategis bisa menjadi opsi transisi untuk Gen Z. Beberapa responden survei eksternal menyebut mereka terbuka membeli apartemen sebagai investasi pertama atau tempat tinggal sementara, sembari mengumpulkan aset untuk nantinya “naik kelas” ke rumah tapak. Selain itu, adanya tren co-living menandakan Gen Z tidak keberatan tinggal di hunian vertikal bersama penyewa lain demi kenyamanan dan fleksibilitas . Permintaan unit co-living premium (fasilitas lengkap, sewa >Rp4 juta/bulan) naik 67% pada 2024 – indikasi bahwa pengalaman tinggal yang nyaman saat muda lebih diprioritaskan, sementara kepemilikan rumah bisa ditunda sampai benar-benar siap.

Bagi pengembang, preferensi ini berarti proyek rumah tapak berharga terjangkau dengan konsep kota mandiri (fasilitas komplit) akan sangat diminati Gen Z. Sediakan akses shuttle atau dekat transport umum, dan unit mungkin lebih kecil sesuai daya beli. Sementara itu, apartemen mikro atau co-living di pusat kota dapat menggaet Gen Z urban sebagai solusi interim, terutama yang ingin dekat tempat kerja namun belum mampu beli properti besar.

Perilaku Menabung dan Investasi Gen Z untuk Rumah

Karena kendala finansial besar, kunci utama agar Gen Z bisa membeli rumah adalah kemampuan mereka menabung uang muka dan mempersiapkan finansial. Survei menunjukkan hasil yang cukup optimistis: 57,4% Gen Z sudah mulai menabung atau berinvestasi untuk membeli rumah, sedangkan 42,6% sisanya belum. Jadi, lebih dari separuh memiliki niat dan aksi nyata mempersiapkan dana rumah, meskipun mungkin belum rutin atau jumlahnya kecil.

Temuan ini didukung riset Populix (2025) yang menemukan 7 dari 10 anak muda (Gen Z & milenial) berkomitmen menabung secara rutin. Namun, caranya bervariasi: hanya 23% yang menabung dengan nominal tetap setiap bulan, 46% menabung bulanan dengan nominal tidak tetap, dan 8% menabung tiap minggu (lebih sedikit tapi rutin). Sementara itu, dari yang tidak rutin menabung, 17% akan menyimpan uang hanya jika ada sisa di akhir bulan, dan 4% (terbanyak Gen Z) menabung hanya jika punya tujuan tertentu (misal membeli barang atau liburan). Pembelian rumah bisa jadi salah satu “tujuan khusus” yang mendorong Gen Z tertentu mulai menabung. Data ini menunjukkan kesadaran finansial Gen Z cukup tumbuh, meski tantangan konsistensi dan disiplin masih ada.

Arah investasi/tabungan Gen Z juga menarik: Mayoritas milenial menaruh tabungan di bank, sedangkan Gen Z relatif lebih nyaman menyimpan dana di e-wallet – menandakan literasi digital tinggi tapi mungkin perlu diarahkan agar dana rumah tidak habis terpakai karena terlalu likuid di e-wallet. Uniknya, 34% anak muda masih menyimpan uang secara tunai di rumah , mungkin sebagai kontrol pengeluaran atau kurang percaya bank. Soal bentuk investasi: 14% (dominan Gen Z) memilih investasi saham/reksa dana/kripto, dan 12% memilih aset fisik seperti emas atau properti . Hanya 1 dari 8 yang sudah berinvestasi di properti/emas, artinya sebagian besar tabungan Gen Z belum langsung meningkat seiring kenaikan harga properti (kecuali emas). Ini tantangan: nilai rumah naik terus, sementara tabungan konvensional mereka mungkin kalah inflasi properti.

Bagi yang belum mulai menabung (42,6%), alasan bisa beragam: penghasilan pas-pasan, prioritas lain (kendaraan, menikah, dll), atau kurang pengetahuan memulai. Kelompok ini rawan semakin tertinggal karena tidak memanfaatkan usia muda untuk mencicil DP. Edukasi keuangan perlu ditingkatkan agar mereka memahami pentingnya mulai dini.

Selagi menabung DP, banyak Gen Z memilih tinggal di hunian sewa yang nyaman meski biayanya mendekati cicilan KPR. Fenomena ini terlihat dari pernyataan Country Director Cove bahwa “dengan harga sewa hampir setara cicilan KPR, Gen Z dan milenial tetap memilih tinggal di tempat nyaman berfasilitas lengkap” . Mereka berprinsip sambil menyewa pun bisa menabung, asalkan lingkungan mendukung produktivitas. Strategi lain, beberapa Gen Z mencari penghasilan tambahan (side job) khusus untuk tabungan rumah – survei Bank of America (AS) misalnya menyebut 30% pemilik rumah Gen Z di 2025 membayar DP dengan mengambil pekerjaan ekstra. Meski data AS, pola serupa mungkin ada di Indonesia (freelance, bisnis online sampingan) sebagai upaya meningkatkan kemampuan menabung DP.

Bagaimana percepatan Gen Z dalam mengumpulkan DP? Salah satu solusi populer adalah program tabungan rumah atau deposito berjangka kerja sama bank dan developer, di mana nasabah auto-debit sejumlah tetap untuk dikumpulkan sebagai DP dalam beberapa tahun. Inovasi lain, ada startup yang menawarkan konsep “rent-to-own”: menyewa properti tertentu dan sebagian dari sewa dihitung sebagai kredit DP bila kelak dibeli. Meskipun model ini masih jarang di Indonesia, potensi ke depan ada untuk membantu mereka yang disiplin menyewa di satu tempat lalu berkesempatan memiliki. Selain itu, pemerintah bisa mendorong skema bantuan DP (beberapa bank menawarkan KPR DP 0% untuk pegawai tertentu, namun cakupannya terbatas).

Intinya, perilaku menabung Gen Z menunjukkan kesadaran sudah cukup baik (77% menabung rutin/tidak rutin), namun perlu difokuskan dan difasilitasi agar tujuan “rumah” tercapai. Tanpa disiplin dan strategi investasi yang mengungguli kenaikan harga rumah, impian memiliki rumah bisa terus menjauh.

Pemanfaatan KPR dan Kondisi Pembiayaan Rumah

Mengingat harga rumah jauh di atas kemampuan beli tunai kebanyakan Gen Z, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi opsi pembiayaan kunci. Survei kita menunjukkan 63,5% Gen Z tertarik menggunakan KPR untuk membeli rumah, hanya 33,1% tidak tertarik, dan 3,4% belum tahu. Artinya, hampir dua pertiga siap mengandalkan pinjaman bank demi mewujudkan impian rumah. Kelompok yang tidak tertarik KPR kemungkinan khawatir berutang jangka panjang atau berharap bisa membeli secara tunai/bertahap tanpa bank – namun data pasar menunjukkan itu minoritas. Di Indonesia, realitasnya mayoritas pembelian rumah memang melalui KPR: menurut Bank Indonesia, pada Q4 2024 72,54% pembelian rumah primer dibiayai dengan skema KPR . Hanya ~18,7% yang menggunakan skema cicilan bertahap ke developer, dan hanya 8,7% yang sanggup beli tunai . Proporsi ini mencerminkan keberadaan KPR sangat vital untuk mendorong penjualan ke end-user muda.

Tingkat ketertarikan KPR yang tinggi di kalangan Gen Z tentu kabar baik bagi perbankan, tetapi juga menggarisbawahi tantangan aksesibilitas KPR. Pinhome mencatat Gen Z kerap kesulitan mengajukan KPR karena kurangnya riwayat kredit dan pekerjaan yang belum stabil . Bank konvensional mensyaratkan histori kredit (misal kartu kredit) dan status pekerjaan tetap dengan masa kerja tertentu – syarat yang tak selalu mudah dipenuhi Gen Z yang mungkin baru bekerja 1-2 tahun atau berwirausaha/freelance. Fintech lending dan skoring alternatif bisa membantu menilai kelayakan kredit Gen Z di masa depan, sehingga rekam jejak sewa, pembayaran tagihan, atau arus kas digital dapat dipakai bank menilai kemampuan bayar, bukan semata melihat slip gaji tetap. Beberapa bank sudah mulai menerima karyawan kontrak atau gig worker dalam pengajuan KPR, tentu dengan analisis risiko lebih hati-hati.

Dari sisi suku bunga, perkembangan terkini cukup kondusif: Bank Indonesia menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate dari 6,25% ke 6,0% pada Sept 2024, lalu lagi ke 5,75% pada Jan 2025 . Penurunan suku bunga acuan ini berdampak positif pada transaksi KPR/KPA yang tumbuh ~58% di Q4 2024 . Suku bunga KPR cenderung ikut turun (meski dengan lag beberapa bulan). Artinya, cicilan KPR bagi calon pembeli – termasuk Gen Z – bisa sedikit lebih ringan ke depan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bagi Gen Z yang sensitif terhadap besar cicilan, tren suku bunga menurun ini meningkatkan daya beli mereka . Tentu, mereka juga harus waspada terhadap kemungkinan naiknya bunga di masa 20-30 tahun tenor KPR; oleh karena itu, memilih fixed rate lebih lama di awal KPR mungkin bijak saat bunga sedang rendah.

Pemerintah juga mendorong akses KPR melalui program KPR Subsidi/Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Program ini memberikan suku bunga tetap rendah (~5%) dan DP ringan bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) untuk membeli rumah sampai harga tertentu (±Rp168 juta untuk rumah tapak, Rp292 juta untuk rusun di 2025). Gen Z dengan gaji di bawah batas MBR bisa memanfaatkan ini. Subsidi bunga KPR sangat diharapkan Gen Z – dalam survei, salah satu solusi yang mereka nilai akan membantu adalah “Subsidi pemerintah untuk DP atau bunga KPR” (dibahas di sesi berikut).

Selain KPR bank, skema cicilan in-house developer menjadi alternatif bagi sebagian Gen Z, terutama yang tidak lolos KPR bank. Cicilan in-house biasanya tenor lebih pendek (3-5 tahun) dan bunga lebih tinggi, sehingga jarang diminati kecuali developer memberi promo khusus. Namun belakangan, beberapa startup proptech menawarkan kolaborasi dengan developer untuk memanjangkan tenor cicilan developer hingga 10 tahun – semacam bridge financing bagi konsumen. Inovasi semacam ini, bila di-scale up, dapat menjadi pelengkap KPR konvensional.

Dari paparan di atas, jelas KPR adalah tulang punggung pembiayaan kepemilikan rumah generasi muda. Tugas berbagai pihak memastikan KPR ini semakin aksesibel: bank perlu inovasi skema untuk karyawan non-konvensional dan edukasi literasi kredit, regulator menjaga suku bunga rendah stabil, serta pemerintah memperluas kuota KPR subsidi. Jika tidak, minat tinggi Gen Z pada KPR tidak bisa dikonversi menjadi approval KPR nyata, dan backlog rumah akan tetap tinggi.

Persepsi Gen Z terhadap Harga Properti Saat Ini

Menarik untuk melihat bagaimana Gen Z menilai kondisi harga properti saat ini – apakah mereka merasa harga masih wajar atau sudah keterlaluan. Survei (N=280) menunjukkan pandangan Gen Z cukup terbelah mengenai keterjangkauan harga rumah saat ini:

  1. 43,6% responden menilai harga properti “cukup terjangkau” (masih wajar). Kelompok terbesar ini mungkin mengacu pada pasar secara umum atau segmen tertentu; bisa jadi mereka berpikir masih ada opsi rumah yang sesuai budget (misal di pinggiran) sehingga in general harga dianggap cukup wajar.
  2. 25,4% merasa “tidak terjangkau” (harga saat ini kemahalan).
  3. 15,7% menyatakan “sangat tidak terjangkau” – mencerminkan frustrasi bahwa harga rumah sudah jauh di luar jangkauan.
  4. Hanya 11,8% yang optimis menyebut “sangat terjangkau” – kemungkinan mereka yang berpenghasilan tinggi atau sudah punya bantuan dana.
  5. 3,6% tidak yakin/tidak menjawab.

Jika digabung, sekitar 41% menilai harga tidak terjangkau, sedangkan 55% menilai cukup/ sangat terjangkau. Ini indikasi persepsi Gen Z cukup campur aduk: sebagian besar merasa masih ada celah untuk membeli (mungkin dengan bantuan KPR, subsidi, beli di lokasi lebih murah), namun kelompok yang signifikan merasa harga sudah keterlaluan dibanding penghasilan mereka.

Pandangan ini sesuai dengan situasi pasar 2024: harga rumah secara statistik hanya naik tipis (~1,4% yoy) , bahkan cenderung stagnan di beberapa segmen, sehingga bagi beberapa Gen Z kondisi “cukup terjangkau” mungkin mengacu pada stabilnya harga saat ini dibanding lonjakan di masa lalu. Di sisi lain, meski pertumbuhan melambat, level harga absolut sudah tinggi – itulah yang dirasakan 40% lebih responden sebagai tidak terjangkau.

Secara psikologis, Gen Z yang menjawab cukup terjangkau mungkin telah menyesuaikan ekspektasi: mereka tahu tak bisa membeli di tengah kota mahal, tapi masih melihat peluang di kelas rumah subsidi atau kota satelit, sehingga menilai harga secara keseluruhan masih ada yang reachable. Sementara yang menjawab tidak terjangkau kemungkinan membandingkan harga dengan gaji mereka langsung di kota domisili – misal pekerja Jakarta dengan gaji pas-pasan melihat harga rumah Jakarta yang miliaran, jelas terasa mustahil.

Di kancah global, persepsi anak muda terhadap housing affordability juga menjadi isu. Studi Clever (2025) di AS menemukan 76% responden percaya Milenial dan Gen Z adalah korban terbesar krisis keterjangkauan housing saat ini. Lonjakan harga properti pasca pandemi secara global (di AS, Kanada, Eropa) membuat generasi muda di banyak negara merasa tertinggal. Namun, beberapa negara mengambil langkah: misalnya di Singapura, pemerintah membatasi kenaikan harga HDB (public housing) dan menyediakan grant khusus kaum muda. Di Indonesia, kebijakan seperti subsidi selisih bunga dan pembebasan pajak sudah diarahkan untuk menjaga agar first-time buyers masih punya peluang. Stabilnya Indeks Harga Properti Residensial BI (hanya +1,39% yoy) menandakan pemerintah cukup berhasil meredam spekulasi berlebihan, sehingga setidaknya harga tidak lari lebih kencang daripada pendapatan.

Meski persepsi terbelah, pesan utamanya: banyak Gen Z merasa harga rumah saat ini di ambang keterjangkauan – bisa terbeli kalau dibantu, tapi juga mudah menjadi tak terjangkau jika naik lagi. Maka menjaga stabilitas harga rumah (atau menurunkannya di segmen tertentu) sangat penting beberapa tahun ke depan, agar optimisme “cukup terjangkau” tidak berubah menjadi “tidak terjangkau” bagi generasi ini.

Solusi dan Inovasi yang Dianggap Membantu Gen Z (Perspektif Responden)

Apa yang Gen Z pikirkan sebagai solusi agar mereka lebih mudah punya rumah? Pertanyaan survei terakhir meminta responden mengurutkan beberapa inisiatif/hal yang dapat membantu Gen Z memiliki rumah, dari prioritas utama (rank 1) hingga terakhir (rank 5). Lima opsi yang diberikan dan hasil ranking 1 (prioritas utama) di antaranya:

  1. Peningkatan pendapatan/gaji Gen Z – Ini menjadi prioritas #1 terbanyak, dipilih sekitar 32,9% responden sebagai hal terpenting. Artinya, solusi utama menurut Gen Z adalah menaikkan kemampuan finansial mereka sendiri, entah melalui kenaikan gaji, karier lebih baik, atau peluang pendapatan lain. Mereka sadar bahwa akar masalah adalah gap income-harga, sehingga perbaikan gaji akan langsung berdampak. Tentu, ini bukan solusi instan, tapi menunjukkan perlunya ekonomi menyediakan pekerjaan dengan gaji layak rumah bagi anak muda.
  2. Subsidi pemerintah untuk DP atau bunga KPR – Juga sangat tinggi prioritasnya; sekitar 25,7% menempatkannya sebagai #1, dan banyak lagi menaruhnya di peringkat 2. Bantuan langsung pemerintah – misal subsidi DP, program bantuan uang muka, atau subsidi bunga KPR (seperti FLPP) – dianggap solusi konkret yang langsung meringankan beban awal Gen Z. Sudah ada skema FLPP, tapi mungkin responden ingin kuota diperbanyak dan cakupan diperluas. Pemerintah memang telah meluncurkan Program Sejuta Rumah dan skema subsidi sejak beberapa tahun, namun permintaan jauh melebihi supply. Respon Gen Z ini selaras dengan pandangan Pinhome bahwa mengikuti program subsidi perumahan pemerintah merupakan salah satu cara peluang Gen Z memiliki rumah .
  3. KPR dengan bunga rendah – Diprioritaskan oleh sebagian responden (rank #1 oleh ~14,3%), dan banyak menaruh ini di prioritas #2 juga. Mereka menginginkan skema kredit lebih terjangkau jangka panjang, misalnya bunga KPR fixed rendah atau tenor lebih panjang. Saat ini suku bunga KPR komersial berkisar 9-10%; andai ada produk KPR khusus Gen Z dengan bunga subsisi di 5-6% (atau bunga komersial turun karena kebijakan BI), daya beli mereka tentu terdongkrak. Usulan ini sejalan dengan langkah BI menurunkan suku bunga acuan dan beberapa bank BUMN yang menawarkan KPR Mikro dengan bunga di bawah pasar.
  4. Penurunan harga properti – Menariknya, relatif sedikit yang menempatkan “harga rumah turun” sebagai prioritas utama (hanya ~12,5% rank #1), meskipun banyak yang menaruhnya di prioritas #2. Mungkin Gen Z merasa turunnya harga properti adalah hal sulit (karena biasanya harga cenderung naik), sehingga mereka lebih fokus pada solusi meningkatkan kemampuan (gaji naik) atau bantuan pembiayaan. Namun, sebenarnya tekanan pasar sudah membuat harga terkoreksi di beberapa lokasi . Langkah yang bisa diambil pemerintah misalnya menyediakan lebih banyak lahan hunian murah, atau insentif pajak bagi pembangunan rumah terjangkau, sehingga harga efektif turun. Land Value Tax (pajak nilai lahan) pernah diusulkan untuk menekan spekulasi harga tanah perkotaan , yang jika diterapkan bisa membantu menurunkan/menstabilkan harga rumah untuk konsumen akhir.
  5. Program cicilan jangka panjang yang lebih fleksibel – Ini mencakup ide seperti memperpanjang tenor KPR (misal sampai 30 tahun atau lebih), skema rent-to-own, atau cicilan in-house kreatif. Hanya ~10,4% responden yang menjadikannya prioritas #1, dan mayoritas menaruh opsi ini di peringkat bawah. Kemungkinan Gen Z kurang familiar dengan inovasi finansial spesifik, atau menganggap ini wewenang lembaga keuangan. Meski demikian, fleksibilitas tenor & skema pembayaran jelas membantu; misalnya beberapa bank sudah menawarkan KPR sampai tenor 30 tahun (sehingga Gen Z usia 25 bisa melunasi di usia 55), dan balloon payment atau grace period untuk meringankan cicilan awal. Inovasi cicilan sewa-beli juga bisa dijajaki oleh developer dan fintech.

(Opsional ada pilihan “Lainnya/tidak tahu” namun mayoritas 5 opsi di atas yang diurutkan.)

Dari ranking di atas, dapat disimpulkan Gen Z memandang solusi harus datang dari dua arah: internal (peningkatan pendapatan) dan eksternal (dukungan pemerintah & skema pembiayaan). Kenaikan gaji adalah solusi ideal tapi tentu membutuhkan perbaikan ekonomi makro, peningkatan skill, dsb. Sementara solusi eksternal seperti subsidi DP/bunga sudah terbukti efektif – program subsidi DP pemerintah sejak 2015 telah membantu ratusan ribu MBR, dan perpanjangan insentif PPN DTP di 2024-2025 juga bertujuan memudahkan pembelian rumah pertama . Gen Z jelas mengapresiasi keberlanjutan program-program ini.

Selain itu, mereka juga melihat pentingnya inovasi sektor keuangan. Perkembangan teknologi finansial (fintech) bisa menjadi solusi bagi Gen Z yang terhambat persyaratan perbankan tradisional . Pinhome menyebut fintech dapat memberi alternatif pembiayaan bagi Gen Z – misalnya platform crowdfunding properti (patungan beli aset), atau pinjaman P2P khusus DP. Ada pula startup yang memungkinkan orang membeli porsi kecil properti (fractional ownership) sebagai investasi awal. Meskipun mungkin belum langsung memberi kepemilikan rumah utuh, inovasi ini dapat mempercepat Gen Z masuk ke pasar properti dengan modal lebih rendah.

Bagi pengembang properti: Rekomendasi yang bisa ditarik dari preferensi Gen Z ini antara lain: fokus bangun rumah terjangkau (di bawah Rp500 juta) karena di situlah demand terbesar, bekerja sama dengan pemerintah untuk memanfaatkan subsidi dan lahan murah, serta mungkin menyediakan opsi DP rendah atau cicilan langsung untuk menarik pembeli Gen Z yang kesulitan DP. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, developer juga bisa menggandeng institusi keuangan non-bank untuk skema pembiayaan kreatif (misal cicilan multiguna atau sewa-beli).

Bagi investor dan sektor swasta: Peluang besar ada di pengembangan co-living dan sewa hunian berkualitas. Tren Gen Z menyewa hunian premium sementara menabung membuka pasar bagi bisnis rental housing modern. Investor dapat mendukung startup co-living atau membangun apartemen sewa khusus generasi muda dengan fleksibilitas tinggi, karena nampaknya animo segmen ini terus tumbuh (permintaan co-living Cove naik 80% dengan okupansi 80% ).

Bagi lembaga keuangan: Bank bisa meluncurkan produk KPR khusus Gen Z dengan fitur seperti persetujuan lebih fleksibel (mempertimbangkan gig economy income), DP rendah bundling deposito, platform digital end-to-end (mengingat Gen Z melek digital), dan edukasi perencanaan KPR. Contohnya BRI telah mengkampanyekan KPR untuk anak muda dengan menggandeng komunitas . Selain itu, bank dapat kerjasama dengan perusahaan tempat Gen Z bekerja untuk skema payroll-based mortgage (angsuran KPR dipotong otomatis gaji dengan syarat tertentu).

Bagi pemerintah/pembuat kebijakan: Rekomendasi utama tentu melanjutkan dan memperluas subsidi perumahan (DP, bunga) bagi pembeli rumah pertama Gen Z. Selain itu, mempermudah prosedur KPR – mungkin dengan regulasi mempersingkat proses perizinan atau memotong biaya-biaya akad yang memberatkan (BPHTB, notaris, dll). Kebijakan pengendalian harga lahan di perkotaan juga krusial: misalnya mendorong pembangunan hunian TOD (transit-oriented) di tanah pemerintah/BUMN agar harga bisa ditekan, atau pajak progresif lahan nganggur untuk mencegah spekulan. Program edukasi literasi finansial (menabung dan kredit) khusus generasi muda juga diperlukan agar Gen Z lebih siap secara keuangan. Dan tak kalah penting, mendukung penciptaan lapangan kerja dengan gaji layak bagi anak muda – misalnya industri kreatif, startup, ekonomi digital – karena ujungnya kemampuan beli rumah tergantung pendapatan mereka.

Insight Penutup dan Rekomendasi Strategis

Gen Z Indonesia sangat ingin punya rumah sendiri, namun terbebani jurang antara harga properti dan kemampuan finansial mereka. Survei awal 2025 memperlihatkan 4 dari 5 Gen Z berniat membeli rumah dalam lima tahun ke depan, tetapi lebih dari separuh masih tinggal dengan orang tua karena belum mampu mandiri. Kendala terbesar jelas pada faktor ekonomi: pendapatan mereka belum mencukupi menghadapi harga rumah yang terus naik (10% dalam 3 tahun). Walau suku bunga KPR mulai turun dan pasar cenderung pembeli-sentris, daya beli Gen Z tetap fokus di segmen <Rp400 juta. Mereka cenderung realistis memilih lokasi pinggiran dengan fasilitas lengkap daripada memaksa di pusat kota yang mahal, dan sangat mengandalkan KPR sebagai jalan utama.

Rekomendasi bagi pemangku kepentingan:

  1. Pengembang Properti: Alihkan portofolio ke hunian terjangkau bagi pembeli rumah pertama. Manfaatkan program subsidi pemerintah untuk menekan harga unit. Misalnya, pembangunan klaster rumah sederhana di pinggiran Jakarta dengan harga Rp200–500 juta berfasilitas komplit berpeluang tinggi diserap Gen Z . Sediakan opsi promo DP 0% atau cicilan in-house jangka panjang untuk meringankan barrier masuk. Pengembang juga perlu inovatif dalam desain: rumah kompak yang dapat diperluas kemudian, atau apartemen ukuran kecil dengan ruang komunal menarik Gen Z urban. Jangan lupakan pemasaran digital (via Instagram, TikTok) untuk menjangkau audiens Gen Z dengan edukasi kepemilikan rumah.
  2. Lembaga Keuangan (Bank/Kreditur): Permudah akses KPR bagi Gen Z. Pertimbangkan kriteria approval yang lebih lentur untuk peminjam muda: misal terima histori transaksi e-wallet/gaji proyek sebagai bukti kemampuan bayar, atau produk KPR mikro. Lanjutkan tren penurunan suku bunga kredit seiring BI Rate turun ; berikan fixed rate lebih lama agar kepastian cicilan tercapai. Edukasi Gen Z tentang kesiapan KPR (dokumen, skor kredit) melalui webinar atau kolaborasi kampus dapat meningkatkan approval rate. Selain itu, garap peluang pada produk tabungan perumahan – misalnya tabungan berjangka autodebet untuk DP dengan benefit asuransi atau undian rumah – supaya Gen Z terdorong menabung rutin. Lembaga keuangan juga bisa bermitra dengan fintech P2P atau perusahaan tempat Gen Z bekerja untuk skema pembiayaan alternatif.
  3. Investor & Pelaku Pasar: Melihat tren bahwa banyak Gen Z menunda beli dan memilih sewa premium, investasi di sektor sewa hunian berkualitas (co-living, apartemen servis) akan menguntungkan. Permintaan sewa co-living tumbuh 67% YoY , menunjukkan potensi profit bila dikembangkan serius. Namun, jangan abaikan pangsa pasar jual: investasi di proyek-proyek rumah subsidi/terjangkau juga prospektif karena pemerintah memberikan berbagai insentif (bebas PPN, subsidi bunga) dan backlog masih besar. Bagi investor institusi, mendanai skema rent-to-own atau KPR inovatif bisa menjadi ceruk baru dengan risiko terukur (karena permintaan Gen Z tinggi untuk produk semacam itu). Selain itu, investor dapat mendorong developer menerapkan teknologi konstruksi murah (modular, prefab) untuk menekan harga jual – investasi di teknologi proptech seperti ini sejalan dengan upaya memenuhi kebutuhan Gen Z.
  4. Pembuat Kebijakan (Pemerintah): Perlu percepatan dan perluasan program bantuan kepemilikan rumah. Pertama, lanjutkan program subsidi pembiayaan (FLPP, SBUM) dengan target yang tepat sasaran ke generasi muda dan perluas plafon harga sesuai inflasi agar Gen Z di kota besar terjangkau . Kedua, sederhanakan regulasi: permudah perizinan KPR untuk sektor informal, turunkan biaya-biaya transaksi (BPHTB untuk rumah pertama bisa dipotong), dan percepat penerbitan sertifikat melalui digitalisasi. Ketiga, tingkatkan suplai rumah murah: misalnya melalui BUMN dan Pemda bangun hunian massal TOD dekat pusat pekerjaan, atau skema public-private partnership untuk rumah MBR di lahan pemerintah. Keempat, integrasikan program perumahan dengan program peningkatan pendapatan – misal memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang membantu karyawan membeli rumah, atau program vocational training di sektor konstruksi (sekali dayung menambah pendapatan pemuda dan membangun rumah mereka). Kelima, awasi spekulasi dan inflate harga: kebijakan fiskal seperti pajak progresif tanah dan rumah lebih dari satu unit dapat mendinginkan harga sehingga tetap reachable oleh pembeli pertama.

Sebagai penutup, prospek Gen Z untuk memiliki rumah memang menantang, tetapi bukan tidak mungkin. Data menunjukkan beberapa sinyal positif: suku bunga turun, inventori bertambah, harga di beberapa area terkoreksi , dan Gen Z sendiri semakin melek finansial serta terbuka pada solusi baru. Dengan sinergi pemerintah (subsidi dan regulasi), industri properti (produk terjangkau), lembaga keuangan (pembiayaan inovatif), dan upaya Gen Z meningkatkan kapasitas ekonominya, kita dapat menjembatani gap generasi ini dengan impian rumah pertamanya. Langkah strategis yang diambil hari ini akan menentukan seberapa cepat Gen Z Indonesia dapat bertransisi dari “generasi ngekos” menjadi generasi pemilik rumah, sehingga stabilitas sosial-ekonomi jangka panjang pun terjaga.

Referensi:

  1. Hasil Survei “Kemampuan Gen Z Membeli Rumah” 2025 (280 responden, CAWI)
  2. Bank Indonesia, Survey Harga Properti Residensial Q4 2024
  3. Feby Novalius – Okezone Economy. “Pasar Properti 2025 Lebih Cerah, Peluang Gen Z Punya Rumah”
  4. Kintan Nabila – Hypeabis.id. “Riset Populix: Gen Z dan Milenial Serius Menabung”
  5. Generali Indonesia. “Gen Z Sulit Beli Rumah? Faktor dan Strategi Mengatasinya”
  6. Merdeka.com. “Gen Z Amerika Pilih Beli Rumah, Anak Muda RI Lebih Suka Kontrak”
  7. Jihaan Khoirunnisaa – detikProperti. “Kriteria Properti Incaran Milenial & Gen Z”
  8. Candra Gunawan – GoKepri. “Gen Z & Milenial Sulit Beli Rumah, Pilih Sewa Hunian”
  9. ANTARA News. “Prospek Gen Z miliki rumah cukup menantang tapi ada peluang”

Content Type

Forecasts & Surveys

Industry

Economy

Publication Date

25 August 2025

Other Insight

Forecasts & Surveys

Recommendation
Free
Hubungan Patron–Klien Tokoh Agama di Indonesia 2025: Fenomena Sosial, Politik, dan Era Digital

Analisis mendalam hubungan patron–klien antara tokoh agama dan masyarakat Indonesia. Temukan peran spiritual, politik, dan ekonomi tokoh agama, pengaruh media sosial, serta implikasi kebijakan publik di era digital.

August 27, 2025

Reports

Recommendation
Analisis Perilaku Media Sosial dan Dampak Digital Anak Muda Indonesia 2025

Analisis mendalam perilaku konsumen produk perawatan diri di Indonesia, dilengkapi tren industri terkini, data pasar nasional & global, serta insight inovasi untuk mendukung keputusan bisnis.

September 03, 2025

Market Insights

Recommendation
Free
Analisis Perilaku Konsumen Indonesia Selama Ramadan 2025: Pola Konsumsi, Aktivitas, dan Peluang Pasar

Temukan insight mendalam tentang perilaku konsumen Indonesia selama Ramadan 2025.

August 28, 2025

Reports

Recommendation
Analisis Perilaku Konsumsi Daging Ayam di Indonesia (2020–2025)

Analisis perilaku konsumsi ayam di Indonesia 2025: Frekuensi makan, preferensi ayam segar vs olahan, kanal pembelian, sensitivitas harga, tren industri lokal & global, serta peluang inovasi produk untuk brand & investor.

August 28, 2025

Market Insights

Recommendation
Laporan Survei Konsumsi Mie Instan di Indonesia – Juli 2025

Analisis mendalam konsumsi mie instan Indonesia 2025—frekuensi, preferensi merek & rasa, kanal pembelian (warung–modern trade–e-commerce), tren pasar global, dampak harga, serta peluang inovasi bagi brand & investor.

August 28, 2025

Reports

Recommendation
Laporan Analisis Perilaku Merokok & Tren Industri Nikotin di Indonesia (2025)

Laporan analisis perilaku merokok di Indonesia dengan tren industri rokok & vape, data pasar, serta peluang inovasi bagi brand dan investor.

August 26, 2025

Let's explore how insights can transform your decisions.

0895351048804

admin@50inovasi.com

Headquarter:

Add Co-Working Space, Wisma PMI
Jl. Wijaya I No.63 Lantai 7, RT.8/RW.1,
Petogogan, Kec. Kby, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170

LegalPrivacy PolicyTerms & Conditions

Copyright 2025, All Rights Reserved